Home
Virus Merah Jambu

Virus Merah Jambu

Hati-hati.!! Virus Merah Jambu

Pernahkah kalian mendengar virus merah Jambu? Virus merah jambu merupakan istilah lain dari jatuh cinta. Biasanya, virus ini hadir ketika seseorang mulai beranjak remaja. Tentu sebagian diantara kita tidak asing lagi dengan virus yang satu ini. Pasalnya, virus ini lebih dominan menjangkit kids zaman now yang sedang mengalami masa pubertas.

Munculnya ketertarikan pada lawan jenis di masa remaja adalah hal yang wajar dan normal. maka dari itu, sangat penting di usia remaja untuk mengelola virus merah jambu tersebut. Dengan pintar mengelola virus merah jambu, maka kewajiban belajar anak-anak tidak akan terganggu.

“Kenapa sih kok jatuh cinta, virus ?”
Ya, karena jatuh cinta datang dan perginya secara tiba-tiba. Efeknya pun tidak terduga apabila kita belum siap menerima virus tersebut.

Jatuh cinta (fall in love) merupakan suatu energi yang ada di dalam hati kita untuk respect dan mengagumi seseorang. Jatuh cinta bukan hanya ke lawan jenis, tapi bisa jatuh cinta antara orang tua ke anak, begitu juga sebaliknya. Sedangkan yang terjadi di kalangan remaja itu bukanlah jatuh cinta, tapi lebih cenderung ke rasa kagum. Karena cinta itu lebih ke rasa tanggung jawab dan komitmen. Jadi, apabila kita ingin membedakan jatuh cinta dan rasa kagum seseorang, kita bisa lihat dari usia fisik dan mental orang tersebut.

Banyak permasalahan virus merah jambu di kalangan remaja, salah satunya adalah bucin (budak cinta). Padahal “budak” merupakan istilah yang kurang pas digunakan. Pada zaman dahulu, Rasulullah saja memerdekakan budak. Jadi, apabila seseorang menyebut dirinya atau temannya “bucin”, itu sama saja merendahkan diri.

“Lalu, bagaimana jika seseorang mulai takut dirinya jatuh cinta bahkan sampai menyelipkan nama seseorang dalam do’anya ?”

Berarti yang ia senggol adalah penciptanya, bukan orangnya langsung. Ketika seseorang merasa suka dengan orang lain, kemudian ia ingin menghilangkan rasa suka tersebut artinya sensor dalam mengatakan siap untuk suka dengan orang lain tapi takut dengan resikonya. agar rasa itu tidak mengganggu, maka alihkan dirimu dengan kegiatan lain, misal: Tilawah Al-Qur’an, olah raga, menulis, dll. Rasa cinta itu timbul karena penasaran pada orang tersebut. Maka, jalankan logikamu, agar kita tidak dikendalikan dengan rasa. Jadi, untuk para remaja kalian boleh-boleh saja memiliki rasa kagum terhadap lawan jenis. Tapi, ingat jangan sampai rasa kagum itu mengalahkan logikamu. Karena masih banyak hal yang harus diperjuangkan dan masa depan kalian masih panjang.
Berbicara tentang remaja, ia yang mengalami masa pubertas akan mencari jati diri mereka dan ingin mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang-orang terdekatnya. Tak hanya itu, bunga di taman hati kini mulai mekar karena adanya daya tarik terhadap lawan jenis.

Namun, apa jadinya jika taman tersebut tidak diberikan pupuk yang sesuai dengan kebutuhannya.? Mungkin tidak akan tumbuh bunga yang indah. Begitu juga dengan kids jaman now yang mulai menyukai lawan jenis namun salah dalam mengaplikasikan rasa sukanya. Pengaplikasian yang kebablasan tentu akan menimbulkan problematika pada remaja. Gak pacaran gak gaul. Ya itulah slogan mereka yang terjangkit virus merah jambu stadium akhir. Mereka kerap mengatas namakan cinta, namun realitanya untuk menyalurkan nafsu semata. Akhirnya berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi merajalela. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Sri Purwaningsih, tingkat remaja yang hamil dan melakukan upaya aborsi mencapai 58%.

Lantas bagaimana mencegah seseorang yang terjangkit virus tersebut? Islam merupakan agama satu-satunya yang memiliki obatnya. Yakni, Allah mengutus Rasulullah Saw. ke muka bumi sebagai pembawa Risalah-Nya. Salah satunya adalah dalam menyalurkan Gharizah Nau’ (naluri menyukai lawan jenis), dari Ibn Mas’ud ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR Bukhari)

Dari hadis tersebut tampak jelas untuk memotivasi kepada generasi Islam untuk segera menikah jika sudah mampu. Dalam hadis di atas juga tidak ada kata pacaran untuk menyalurkan Gharizah Nau’. Karena pacaran sebelum menikah adalah sebab meningkatnya angka kehamilan di luar nikah dan aborsi setiap tahunnya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra: 32, yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Jadi, tidak pacaran bukanlah suatu yang hina dan pacaran bukanlah salah satu syarat dan rukun menikah.

Kejadian ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, generasi Islam merupakan pembawa perubahan untuk peradaban yang cemerlang. Jika Islam mengalami Lost Generation mungkin ini sejarah yang kelam bagi umat Muslim.
Disinilah peran keluarga sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter generasi Islam para remaja. Karena keluarga merupakan pendidikan pertama yang diperoleh seorang anak. Ibu yang kita kenal sebagai madrasah pertama wajib menanamkan ilmu tauhid ataupun aqidah kepada anak-anaknya.

Dengan begitu akan lahir kembali generasi unggul seperti Imam Syafi’i, Imam Ghozali, Sultan Muhammad Al-Fatih yang diusianya ke 21 mampu menjemput Bisyarah Rasulullah Saw., yakni penaklukkan Kota Konstantinopel. Sekarang ini mereka akan menjemput Bisyarah Rasulullah untuk menerapkan Islam secara Kaffah.

~Al-Fakir~

18 Comments

Leave a Comment

*

*