Home
Urgensi Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Urgensi Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Urgensi Pendidikan Islam Di Era Globalisasi by Setyani, S.Pd

Globalisasi merupakan sebuah fenomena kompleks yang memiliki efek luas terhadap semua dimensi kehidupan umat manusia. Tidak mengherankan, jika istilah, “globalisasi” ini telah memperoleh konotasi arti yang cukup banyak. Di satu sisi, globalisasi dipandang sebagai kekuatan yang tak tertahankan serta jinak untuk memberikan kemakmuran ekonomi kepada orang-orang di seluruh dunia. Di sisi lain, ia dituding sebagai sumber dari segala penyakit kontemporer yang mematikan identitas budaya setiap bangsa. Dua sisi berbeda yang melekat pada globalisasi ini menjadi perhatian serius berbagai bangsa dalam mempertahankan karakter budayanya melalui dunia Pendidikan khususnya pendidikan islam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil dari budi daya manusia yang harus dikoordinir agar sejalan dengan identitas bangsa, nilai-nilai luhur, tradisi, kebudayaan, dan agama. Fenomena global memang tidak dapat dihindari, proses, dinamika dan pengaruhnya telah berhasil mengebiri tradisi dan nilai-nilai luhur keagamaan umat Islam dewasa ini. Nilai-nilai pendidikan Islam hari ini semakin larut dalam gegap gempita berbagai perubahan yang merupakan hasil dari pengaruh globalisasi.

Globalisasi sudah menjadi keharusan sejarah yang banyak memberikan tantangan (threat) juga peluang (opportunity) dalam dunia pendidikan yang akan menggoyang tatanan kebudayaan, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Oleh karena itu menformat ulang teori dan praktik pendidikan harus segera dilakukan dan diseimbangkan, agar pendidikan Islam tidak pasif sebagai penonton bukan pemain, sebagai konsumen bukan produsen. Pendidikan Islam juga harus melakukan dan memerankan diri sebagai agent of change sembari memperkuat identitas Islam. Agar terciptanya muslim yang tidak hanya menguasai pengetahuan umum (atau sebaliknya) tetapi juga unggul dalam ilmu agama, sehingga dapat melakukan mobilitas kehidupan dengan baik dan tertata.

Posisi pendidikan Islam utamanya berupa Pondok Pesantren adalah wajib mempertahankan sikap selektif, kritis, dan terbuka terhadap munculnya arus globalisasi. Di samping itu, juga harus tetap konsisten terhadap sumber utama agama, yaitu al-Quran dan Hadits sambil memperluas wawasan dan pemahaman terhadap kemajuan zaman, modernitas, temuan sains dan teknologi di era globalisasi.Pendidikan merupakan sarana terbaik yang didesain guna melahirkan sebuah generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri, tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan di setiap sendi kehidupan manusia. Namun kemunculan modernisme pada era globalisasi yang di antaranya ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) seakan membuat manusia masa sekarang mengesampingkan daya mental-spiritual atau jiwa yang sedang tumbuh dalam diri mereka. Mereka hanya menggantungkan semua potensi yang ada dalam diri mereka kepada tawaran kenyamanan dan kesantaian teknologi.

Dalam dunia pendidikan misalnya, kecanggihan media elektronik dan informatika telah begitu leluasanya ‚mencuri‛ peran kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan, dan perasaan (emosi). Kemampuan aktualnya telah dimanjakan dengan alat-alat teknologis-elektronis dan informatika seperti komputer, foto copy jarak jauh (facsimile), video casette recorder (VCR), dan komoditi celluloid (film, video-disc), dan sebagainya.9 Ada satu hal yang sangat urgen telah dilupakan oleh para pendidik dan anak didik sekarang ini, yaitu bagaimana menginternalisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai iman dan takwa ke dalam lubuk hati manusia. Apakah teknologi canggih dapat melakukannya. Sampai sekarang belum terdengar ada teknologi yang mampu mentranformasi sikan nilai-nilai spiritual itu.

Melihat fenomena di atas, di sinilah Pendidikan Islam mengambil peran sentral dalam memberikan solusi pemecahan permasalahan baru yang berkaitan dengan dehumanisasi pendidikan, netralisasi nilai-nilai agama, atau upaya pengendalian dan mengarahkan nilainilai transisional menuju pemukiman yang Ilahi, kokoh dan tahan banting baik dalam dimensi individual maupun sosio-kultura. Untuk itu banyak Pondok Pesantren modern/ Pondok pesantren terpadu. Dimana kurikulum yang diajarkan didalamnya berupa pendidikan agama yang kuat serta pembelajaran secara umum dimana muatan yang bawa sangat erat dengan teknologi dan perkembangan zaman di era globalisasi yang semakin maju.

Oleh: Setyani, S.Pd.

8 Comments

Leave a Comment

*

*