Home
TANGGUNG JAWAB TERHADAP PENDIDIKAN KELUARGA
Tanggung Jawab Terhadap Pendidikan Keluarga

TANGGUNG JAWAB TERHADAP PENDIDIKAN KELUARGA

Tanggung Jawab Terhadap Pendidikan Keluarga, Sesungguhnya diantara kewajiban yang paling wajib, tanggung jawab yang paling besar, dan amanat yang paling penting adalah amanat atas seorang muslim untuk mendidik keluarga; yang dimulai dari diri sendiri, kemudian orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, yang terdekat lalu yang dekat. Ini makna firman Alloh Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Q.S. At Tahrim :6)

 Maka seorang muslim bertanggung jawab tentang mereka. Dia akan dihisab terkait mereka, dan dihukum manakala melalaikan pendidikan mereka. Pendidikan bukan sesuatu yang insidentil atau perkara tidak penting atau pemikiran sambil lalu atau sekedar terlintas dalam benak, akan tetapi pendidikan adalah hajat mendasar, perkara yang harus, urusan yang akar-akarnya menancap di masa lalu yang telah pergi untuk menyeberangi masa kini yang berjalan dan membentang ke masa depan yang akan datang.

Keshalihan keluarga adalah suatu nikmat besar, dan karunia mulia dari Allah. Tidak ada yang merasakannya, mengetahui keutamaan dan mengenal kadarnya, kecuali orang yang terhalang meraihnya, yang mana hatinya dibekap oleh kebalikannya dan kalbunya dibelenggu oleh yang berlawanan dengannya.

Sebagaimana setiap tanaman ada penanamnya, setiap harta ada pengumpulnya, maka demikian juga hidayah, dia memiliki sebab-sebab dan jalan-jalan, ia juga memiliki penghalang-penghalang dan rintangan-rintangan.

Yang wajib dan harus atas setiap muslim adalah mencari jalan hidayah dan memanfaatkannya, dan mengetahui jalan kesesatan untuk kemudian menjauhinya.

Seorang muslim harus mengetahui bahwa pendidikan memerlukan usaha gigih yang tidak mengenal kemalasan, pengorbanan yang tidak sejalan dengan kebathilan, berkelanjutan yang tidak mengenal berhenti, semangat yang tidak rela dengan hal rendah, dan tekad yang tidak cocok dengan sikap berpangku tangan.

Cukuplah sebagai keutamaannya, adalah bahwa seorang hamba memetik pahala dari usahanya mendidik hingga pasca kematiannya, setelah habis umurnya dan terputus amalnya di dunia ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, Rosullullah saw bersabda yang artinya:

“Bila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak sholih yang berdo’a untuknya”. ( HSR Bukhori- Muslim)

Derajat seorang muslim terangkat karenanya, pahalanya dilipatgandakan karenanya dan kebaikan menaungi apa yang ditinggalkannya. Dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, Rosullullah saw bersabda yang artinya:

‘’Sesungguhnya derajat seorang laki-laki benar-benar akan diangkat di surga, maka dia bertanya,’’Dari mana ini ?’’ Maka dijawab, ‘’Karena istighfar anakmu untukmu’’. (HSR Ibnu Majah)

Pendidikan yang baik menyatukan seorang Muslim dengan orang-orang yang dicintainya dan para kerabatnya di surga sebagai karunia dari Allah untuknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

‘’Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebaikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang telah dia usahakan (kerjakan)’’.(Ath Thur : 21)

Pendidikan membuat kepala terangkat (dihormati), jiwa mereka ridho, dan alam pikiran menjadi baik. Pendidikan membuat harta terjaga, generasi terlindungi, dan hati sanubari menjadi tenang. Pendidikan mewujudkan keserasian, menepis perbedaan, dan menyatukan perasaan dan cara pandang.

Hidayah adalah anugerah Allah Ta’ala. Dia memberikan kepada siapa yang berhak meraihnya sebagai karunia dan nikmatnya. Maka betapa besar nikmat hidayah. Jadikan pendidikan keluarga sebagai prioritas bagi setiap muslim… terlebih kepala keluarga… karena itulah ia akan diminta pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Namun kadang orang tua  yang memiliki keterbatasan dalam menjalankan amanahnya mendidik keluarga termasuk anaknya. Bisa jadi keterbatasan ilmu, atau bisa jadi keterbatasan waktu. Disinilah, perlunya patner dalam mendidik keluarga. Anak bisa dipilihkan sekolah Islam yang baik. Atau diamanahkan ke pesantren. Dengan harapan akan mendapatkan pendidikan yang baik. Diawali pendidikan sejak memilih ibu, mendidik kala dalam kandungan, mendidik kala balita, kemudian saat ia menginjak remaja melalui sekolah/pesantren diharapkan akan menghasilkan anak yang memahami Islam dengan benar.

Sumber:

100 Ide Praktis Mendidik Keluarga Menjadi Sholih, Abdul Latif bin Hajis al Ghamidi, Daarul Haq

Oleh: Ustadzah Yanti

6 Comments

Tinggalkan Balasan ke Ummu Ifa Batalkan balasan

*

*