Home
Stereotip Negatif Terhadap Islam
islam phobia

Stereotip Negatif Terhadap Islam

Fobia terhadap Islam yang tumbuh menjamur sempat melahirkan sinisme berlebihan terhadap agama yang menduduki peringkat kedua mayoritas pengikutnya seperti dilansir dalam news.detik.com berdasarkan data Pew Research Center. Stereotip miring itu bahkan merambah sampai pada simbol keagamaan meliputi atribut-atribut yang mencerminkan agama Islam seperti jenggot, celana cingkrang dan sorban untuk kaum laki-laki muslim maupun jilbab lebar, besar dan cadar untuk kaum perempuan muslim. Atribut yang disematkan untuk umat Islam yang sebetulnya lumrah berubah menjadi suatu momok yang menakutkan pasca tragedi WTC 9 September 2001 yaitu serangkaian serangan bom bunuh diri yang dilakukan pembajak sekelompok militan islam Al Qaeda hingga meluluhlantakkan dua menara kembar di Washington DC sampai rata dengan tanah. Jumlah korban yang mencapai 3 ribu jiwa tersebut menimbulkan bibit-bibit kebencian terhadap islam. Pesan-pesan yang dibawa oleh media massa saat itu ikut membangun Image buruk yang terus menerpa terhadap agama islam, seperti kekerasan dan terorisme. Pemberitaan media massa yang begitu berlebihan terutama mengenai muslim radical organisation menimbulkan kekhawatiran khalayak secara umum.

Peristiwa peledakan bom Madrid pada 11 Maret 2004 yang merenggut 192 korban jiwa serta 2050 orang terluka memberi kejutan yang luar biasa pada masyarakat dunia. Serangan teroris yang konon membawa 13 bom dan sepuluh diantaranya meledak menjadikan terorisme sebagai isu global dan momok yang sangat menakutkan.

Kebencian barat terhadap islam kian terpicu dengan adanya penyerangan kelompok Al Qaeda di London Inggris di tahun 2005. Dalam peristiwa tersebut diperkirakan 52 orang tewas dan 700 orang terluka. Konfrontasi barat dengan umat islam bukanlah hal baru. Sejarah ini diawali jatuhnya Konstantinopel oleh pasukan tentara muslim yang mengakibatkan kekalahan telak di pihak mereka dalam perang salib.

Stigma buruk terus menerus terhadap agama islam ini tentu saja tidak sesuai dengan keberadaan islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Seperti Firman Allah Azza Wa Jalla :

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِۗ اَلَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad) “Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” “Katakanlah milik Allah”. Dia telah menetapkan sifat kasih sayang pada diriNya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang–orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman. (Al An’am : 12).

Allah Aza Wa Jalla berfirman :

وَاِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan apabila orang-orang beriman kepada ayat-ayat kami datang kepadamu, maka katakanlah, Salamun’alaikum’ Selamat sejahtera untuk kamu. Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diriNya, (yaitu)barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dn memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al An’am : 54).

Kedua ayat mulia itu telah menjelaskan bahwa Allah Robbul ‘Aalamiin telah menetapkan sifat Rahmah atas diriNya seperti telah ditafsirkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »

Dari Abu Hurairah, dari nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah bersabda, Tatkala Allah telah menciptakan makhluk Dia menulis di KitabNya dan Dia menulis atas Diri-Nya dan tulisan itu terletak di sisi-Nya di atas Arsy-Nya : Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemarahanKu.

  1. Bukhari 7404 dan Muslim 2751

Keberadaan strategis  umat islam yang sudah memasuki di segala ruang lingkup kehidupan, baik di bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan politik seharusnya mampu menjadi ujung tombak untuk meluruskan paradigma yang tidak adil terhadap islam. Media masa berbasis islam dengan spirit dakwah yang sangat mulia diharapkan mampu untuk mendobrak pandangan salah tanpa disertai fakta-fakta yang benar di lapangan. Dialog peradaban yang dilakukan secara intensif dengan memotret ciri dan kultur budaya umat islam, yaitu memiliki simbol kearifan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Sholallahu “alaihi Wa Sallam sebagai figur uswatun  hasanah. Ketundukan umat islam sebagai hamba terhadap Robbnya yang tunggal sehingga mampu menyatukan semua pengikutnya dari seluruh dunia dan juga lapisan masyarakat bahwa mereka diciptakan di dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala diharapkan mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang belum mengetahui bahwa islam adalah suatu kebenaran.

Islam yang bersifat proeksistensi mengenai kehidupan yang saling bergandengan tangan, tindak laku santun, damai dan toleran seperti hakekat semua agama yang mengajarkan kelemahlembutan, perdamaian seta kesejahteraan  maka harus dapat dilepaskan dari setiap tindakan serta perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan agama itu sendiri. Ulah segelintir individu maupun kelompok yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik, ekonomi bagi diri mereka  sendiri yang mengatasnamakan islam tidak bisa dijadikan landasan untuk menjustifikasi terhadap islam secara general.

Oleh : Ratna Yunita Ningrum

One Comment

Tinggalkan Balasan ke Aris Y Batalkan balasan

*

*