Home
Sikap Dasar Pemimpin Yang Perlu Ditanamkan Kepada Anak

Sikap Dasar Pemimpin Yang Perlu Ditanamkan Kepada Anak

Anak adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan karunia Allah yang jika kita menghitung seluruhnya maka kita tidak akan mampu seperti yang difirmankan-Nya dalam Surah An-Nahl (16) : 18,  Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. Siapa yang tidak bahagia ketika Allah Azza wa Jalla memberikan seorang buah hati yang dinanti-nantikan oleh setiap insan, khususnya pasangan yang baru saja menikah. Namun ada pentingnya saat umurnya telah bertambah, 1 tahun, 2 tahun, atau mungkin sudah memasuki usia yang bisa dibilang dapat memulai beraktivitas dengan teman sebayanya dengan penuh, kita sebagai orang tua lebih membimbingnya secara komprehensif, terutama mendidik anak dalam bertindak atau mengambil keputusan ketika menghadapi suatu permasalahan.

Pentingnya mengajarkan anak dalam bersikap layaknya pemimpin ini, tak ayal membuat orang tua, baik yang baru berkeluarga maupun yang telah puluhan tahun menjadi pasutri (pasangan suami istri), bahkan memiliki beberapa anak. Disini penulis ingin menyampaikan cara agar dapat melatih anak agar memiliki sikap yang paling mendasar dalam berkepemimpinan, diantaranya :

  • Mengenali potensi anak

Mengapa kita harus mengenali potensi yang berada di dalam diri anak ?. jawabannya sederhana… karena setiap orang tua mau apa yang diinginkan anaknya menjadi kenyataan, minimal dapat berjalan sesuai yang diperkirakan. Dengan ini, anak akan mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Sebagai contoh, anak kita memiliki bakat dalam menulis, maka bimbinglah ia agar menjadi seorang penulis buku, novelis, menulis kitab-kitab islam. Dalam prosesnya, selalu berikan dukungan penuh agar anak terus bersemangat walaupun dirinya sedang dirudung rasa putus asa sebelumnya.

  • Berani berpendapat

Cara ini seringkali luput dari perhatian beberapa pihak, terutama orang tua. Padahal hal ini sangat penting ketika anak dihadapkan dengan situasi yang sulit bahkan rumit sekalipun. Manfaatnya sangat banyak ketika anak dididik agar berani berpendapat, seperti menambah wawasan tentang suatu pembahasan, mengetahui karakter lawan bicara,melatih kemampuan responsif, dan sebagainya. Lalu muncul pertanyaan, “Bagaimana saya bisa memulai melatih anak saya agar berani berpendapat ?”. Mulailah dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sederhana, seperti mengapa dia melakukan hal tersebut. Selain itu, jangan lupa ajarkan juga untuk berbesar hati dalam menerima saat pendapat yang ia sampaikan ditolak.

  • Kejujuran

Sikap ini menjadi inti dari segala pembentukan karakter dalam diri. Mengapa demikian ?. Jawabannya ialah Hadist (yang cukup panjang, jadi penulis hanya mengambil intinya saja) dari lisan Nabi yang mulia ‘Alaihis Shalatu Wassalam lewat banyak riwayat, salah satunya Imam Al-Baihaqi dalam kitab beliau “Syu’abul Iman”, dari Shahabat yang mulia, Abu Dzar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

Yang artinya : ”Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit.”

“ini konotasinya apa, ya ?. Kan kita lagi bahas jujur.” Benar memang. Tapi bukan’kah antara kejujuran & kebenaran adalah dua hal yang saling berkaitan ?. Bukan’kah sama kepahitan yang terasa di awal menyampaikannya?. Namun percayalah buah yang dihasilkannya akan lebih baik dari yang dikira.

Setiap kesalahan yang diperbuat anak mungkin membuat setiap yang mengurusnya jengkel mungkin….. atau ingin mengeluarkan sepatah dua patah kata yang langsung membuatnya insyaf sehingga tak pelik kita kadang tanpa sengaja menyakiti hati anak dan dia tidak mau mengatakan apa adanya yang sedang ia rasakan. Lalu bagaimana cara agar anak tidak bersikap seperti itu ?. Cukup dengan merangkul anak & buat dia mau mencurahkan setiap masalahnya. Kesalahan orang tua hanya satu dalam hal ini yaitu egois dan tidak mau tahu menahu apa yang dialami anaknya. Maka dari itu, ubahlah cara kita itu mulai sekarang.

 

  • Percaya diri

Ketika anak tengah memiliki suatu keinginan yang diwujudkan, kemudian dia tengah diselimuti badai keraguan atau semesta mungkin bersikap acuh tak acuh terhadap mimpinya. Maka selayaknya orang tua menjadi sebuah harapan dalam meraih yang didambakannya. Kita tidak sedang membahas berharap kepada makhluk melebihi Sang Khalik dalam mengambil sikap ini. Enggak… bukan itu… Salah!!!…. tetapi disini penulis hendak menyampaikan bahwa jadilah pendukung sepenuhnya bahkan saat pihak yang sangat berhubungan dengan kita, seperti orang tua, saudara, sanak keluarga menentangnya, asalkan yang dia impikan baik untuk dunia & agamanya. “Bagaimana jikalau yang dia inginkan malah jauh dari nilai-nilai syari’at ?.” Maka sudah sepatutnya orang tua memberikan pengertian baik salah maupun saat yang dia ingin gapai harus sirna di depan mata. Maka peran orang tua sangat berbicara banyak dalam masalah ini.

  • Disiplin

Melatih sikap disiplin dalam setiap aspek akan menumbuhkan karakter kepemimpinan anak. Kok bisa, ya ?. Karena dari setiap yang ingin dilakukan pasti ada rasa mencapai atau menyelesaikan hal tersebut dalam waktu yang telah ditentukan. Kita bisa mulai dengan melatih anak agar menjaga sholatnya 5 waktu terlebih dahulu, kemudian melatihnya agar datang lebih awal sebelum azan berkumandang semisalnya. Lalu lakukan di setiap kegiatan yang ingin dicapai dengan langkah-langkah sesederhana mungkin.

  • Menentukan prioritas

Mulailah dengan menentukan kegiatan yang paling utama untuk diselesaikan hari itu. Misalnya mana yang ingin diprioritaskan antara bermain dan belajar, antara sholat dan bermain game, dan lainnya. Orang tua harus paham akan hal ini. Maka dari sini, akan terbentuk suatu pola yang akan membuat anak paham mana yang lebih penting untuk segera diselesaikan terlebih dahulu.

Masih banyak lagi cara-cara atau langkah-langkah yang jauh lebih kompleks dan lebih baik yang yang disampaikan penulis. “Apakah cara ini yang dipaparkan sudah mencukupi ?.” Maka saya katakan, “Belum.” namun penulis berharap apa yang telah tercurahkan bisa sedikit membuka perhatian orang tua akan pentingnya pola pendidikan karakter yang harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Sebaik-baiknya cara ialah cara yang telah termaktub dalam Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Sunnah Nabi yang mulia ‘Alaihis Shalatu Wassalam, serta semua ini tidak akan berjalan dengan baik dan maksimal tanpa bantuan beberapa pihak yang terkait, seperti keluarga yang di rumah, guru dan teman di sekolah, juga masyarakat dari tetangga hingga teman bermain yang harus ikut andil dalam perkembangan diri sang buah hati. Semoga dapat bermanfaat  apa yang disampaikan dan terima kasih atas perhatiannya.

Oleh: Azam

5 Comments

Tinggalkan Balasan ke As'ad Batalkan balasan

*

*