Home
SANTRI MILENIAL HARAPAN BANGSA DAN AGAMA

SANTRI MILENIAL HARAPAN BANGSA DAN AGAMA

Santri berasal dari kata insan yang berarti manusia dan tri yang artinya tiga, artinya santri adalah orang-orang yang berpatokan teguh terhadap tiga pilar agama Islam; iman, islam dan ihsan. Menurut versi lain, kata santri berasal dari bahasa inggris, sun dan three. Jika digabung, bahasa tersebut mempunyai arti tiga matahari. Tata surya sebegai penerang dunia pada siang hari, dianalogikan sebagai santri yang bisa menerangi kegelapan masyarakat dunia dari pengetahuan agama. Jadi, santri merupakan orang yang belajar agama dan menerapkannya dengan baik.

Spesifikasi santri ada dua, santri secara kultural dan santri secara struktural. Pelajar agama yang menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari adalah santri kultural. Sedangkan santri struktural merupakan orang yang resmi belajar di pesantren (mondok). Jadi, santri yang tidak menerapkan ilmu agamanya bisa dikatakan sebagai santri abal-abal.

Santri adalah sosok yang selalu membawa kearifan dan harapan di dalam masyarakat  dari masa lalu hingga zaman modern saat ini. Masyarakat tidak memandang latar belakang dari para santri, entah itu dari keluarga bangsawan maupun keluarga masyarakat awam dan tak ada keraguan lagi terhadap kehadiran para santri di lingkungannya.

Dapat dikatakan bahwa santri adalah kunci dari kehidupan masyarakat, bahkan ada yang mengatakan bahwa calon-calon pemimpin umat di akhir zaman adalah seorang santri. Jumlah santri di sebuah pondok pesantren bisa mencapai ribuan, bukan hanya di pesantren putra tapi pesantren khusus putri sekarang menjamur di mana-mana.

Dari sekian banyaknya santri yang ada dapat dibayangkan berapa besar potensi negara kita untuk menciptakan para pemimpin yang memiliki rasa peduli yang besar kepada rakyatnya. Dimasa lalu banyak pesantren yang mencetak banyak orang berkualiatas untuk digerakkan di barisan depan kepemimpinan namun hal itu sulit dilaksanakan di zaman modern ini, karena banyaknya perbedaan dari santri masa lalu dan santri masa kini.

Perbedaan itu terjadi seiring dengan berubahnya zaman. Perbedaan ini sangat jelas jika kita perhatikan santri di zaman modern.

Santri Milenial

Santri tahun abad 19 dan santri abad 20 sangant signifikan perbedaannya. Tingkat ketundukan mereka kepada sang guru semakin mengurang mengikuti jalannya waktu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus membangkangya santri kepada gurunya.

Pesantren Tradisional dan Modern mempunyai perbedaan agak jauh. Fokus pembelajaran terhadap kitab-kitab klasik menjadi ciri khas Pesantren Traditional, sedangkan Semi-modern dan Modern mengimplementasikan kajian terhadap kitab klasik dan buku terbaru atau karangan kekinian. Jadi, orang pesantren ala dulu dan sekarang tidak diragukan lagi cara berpikirnya. Mereka bisa menyatukan perspektif untuk membuat gebrakan baru.

Nilai-nilai pesantren sudah banyak ditinggalkan oleh santri alumni tempat tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Diantaranya adalah faktor lingkungan. Penulis melihat kebanyakan orang pesantren berubah drastis saat dia keluar/menjadi alumni.

Di pesantren, santri laki-laki dan perempuan dipisah untuk mencegah larangan agama yang dilakukan kepada lain jenis. Bahkan ada sebagian pesantren yang membatasi dengan dinding pemisah yang sangat tinggi agar santri dan santriwati tidak bermaksiat. Justru hal ini yang membuat orang pesantren sangat merasa terkekang dan saat menjadi alumni dia merasa sangat bebas dan tidak terikat oleh aturan apapun.

Dewasa ini banyak teknologi yang sealau membawa kemudahan dan kecanduan di mata para santri. Walaupun para santri selalu prihatin saat di pesantren dan jarang bersentuhan dengan barang teknologi modern, tetapi saat mereka berlibur di rumah para santri menghabiskan waktu dengan berbagai macam teknologi yang dilengkapi fitur sosial media saat ini.

Globalisasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi penghuni pesantren. Mereka yang terlahir pada tahun 70-an dan mondok pada era 90-an sangat sulit tersentuh oleh kecanggihan teknologi. Kepemilikan telepon rumah pada saat itu masih sangat minim. Hanya orang tertentu saja yang bisa mengoperasikan dan berlangganan. Tahun 2000-an menjadi ajang perdana, arus globalisasi menyentuh masyarakat. Pada saat itu masih belum ada handphone seperti android yang bisa berselancar ke internet dan bisa membuat dunia sesempit rumah kita. Kemudian, hp cerdas tersebut masuk ke Indonesia pada tahun 2011 dan mulai dioperasikan.

Smartphone menjadi barang yang diperlukan oleh kebanyakan masyarakat dunia, termasuk santri dan alumni pesantren. Kegunaan alat canggih tersebut mempunyai sisi positif dan juga negatif. Namun, orang yang tidak bijak menggunakannya akan menggunakannya dalam hal negatif, seperti, menyadap hp teman, menonton video porno, melakukan penipuan, dll. Alat ini menjadi hal yang sangat vital dalam perubahan sifat dan akhlak alumni pesantren selain faktor lingkungan.

Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya pengetahuan yang mereka ingat di pesantren, memori mereka telah terotak-atik oleh teknologi yang serba canggih. Perilaku seperti ini tidak pernah kita temui pada santri dimasa lalu, selain kurangnya pengetahuan teknologi santri dulu selalu mempraktekkan apa yang diajarkan para ustadz mereka.

Tidak cukup sekali dua kali mengulang agar dapat mengerti dan faham dengan apa yang disampaikan para ustadz. Santri dulu tidak pernah ada liburan bukan karena hanya minimnya transportasi tapi juga karena pesantren yang mereka pilih juga jauh dari tempat asalnya.

Dengan penuh cita-cita yang ambisius dan dibekali keberanian yang kuat banyak santri di masa lalu yang benar-benar dapat mengajarkan kitab-kitab yang dibutuhkan dan menjadi pemimpin kegiatan keagamaan dimasyarakat.

Kegigihan santri di masa lalu ini dapat menjadi teladan untuk para santri di akhir zaman ini dimana cita-cita dan harapan bangsa banyak dituangkan dalam lembaga pesantren yang banyak mempercayai bahwa pesantren adalah pencetak manusia-manusia yang berakhlak, manusia yang peduli dengan sesama, serta manusia yang dapat mengemban amanah bangsa.

Oleh: Ustadzah Alia Pryzqy

25 Comments

Leave a Comment

*

*