Home
SABAR DALAM MENUNTUT ILMU

SABAR DALAM MENUNTUT ILMU

Oleh: Hervira Aghnia

Abstrak

Sebuah pohon yang berbuah membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bisa dipetik buahnya yang matang. Begitu pula dengan menuntut ilmu. Perintah sabar yang pertama adalah sabar dalam mewujudkan iman yang pokok. Kemudian sabar yang kedua adalah untuk mewujudkan penyempurna iman. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran ada dua fase yaitu sabar saat belajar dan sabar saat mengajar. Saat belajar perlu bersabar, karena menghafal ilmu harus sabar, memahami ilmu dan konsisten hadir di kajian juga butuh sabar. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesabaran adalah sahabat terbaik bagi pentuntu ilmu.

Kata kunci: Ilmu, Sabar

Sebuah pohon yang berbuah membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bisa dipetik buahnya yang matang. Begitu pula dengan menuntut ilmu. Ilmu ibarat buah yang diharapkan matangnya. Adakah manusia yang langsung pintar ketika lahir? Adakah manusia yang langsung ahli tanpa butuh waktu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mempelajari dan mempraktikkannya? Tentu tidak, kita perlu bersabar dalam menjalani prosesnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan bahwa,

“Tidak ada keberhasilan di dunia dan kemenangan di akhirat kecuali dengan kesabaran. Kalaulah para petani tidak bersabar dalam menanam benih, niscaya dia tidak akan pernah memanen.

Kalaulah bukan karena kesabaran seorang pelajar terhadap pelajarannya, niscaya ia tidak akan pernah sukses dan bisa belajar. Maka untuk menggapai tujuan-tujuan yang tinggi tidak akan bisa dicapai kecuali dengan melalui penderitaan yang berat dan merasakan berbagai kepedihan yang menyakitka sehingga tercapailah sebuah angan-angan”.

Di dalam Al-Quran, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar pada dua hal,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Ali Imran : 200).

Perintah sabar yang pertama adalah sabar dalam mewujudkan iman yang pokok. Kemudian sabar yang kedua adalah untuk mewujudkan penyempurna iman. Hal ini menunjukkan pentingnya sabar dan kita diperintahkan bersabar sampai bertemu Allah. Karena memperjuangkan agar iman semakin sempurna, diantaranta adalah berjuang melalui ilmu merupakan perjuangan sampai akhir hayat. Hal ini juga membuktikkan bahwa sabar tidak ada batasnya, karena pahalanya pun juga tak terbatas.

 Selanjutnya pada ayat yang lain, Allah mengajak kita untuk bersabar dalam menyampaikan ilmu dan mengajar.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya” (Al-Kahfi : 28).

Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran ada dua fase yaitu sabar saat belajar dan sabar saat mengajar. Saat belajar perlu bersabar, karena menghafal ilmu harus sabar, memahami ilmu dan konsisten hadir di kajian juga butuh sabar. Begitu pula saat mengajar, karena untuk betah duduk menyampaikan ilmu kepada masyarakat perlu sabar, memahamkan mereka perlu sabar, saat menemui kekurangan murid juga harus sabar. Termasuk di dalam fase kedua ini adalah mengamalkan ilmu, karena diantara cara mengajar adalah memberi teladan yang baik.

Bukan hanya bersabar, kita juga dianjurkan untuk berdoa. Al-Quran mengajarkan doa ini untuk kita.

“dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Thaha : 114).

“Cukuplah ayat ini menggambarkan ketinggian dan kemuliaan ilmu, ketika Allah memerintahlan nabinya untuk berdoa agar meminta tambahan ilmu” (Miftah Dari Sa’adah, 1 : 223).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesabaran adalah sahabat terbaik bagi pentuntu ilmu. Sebab ilmu takkan didapatkan tanpa kesabaran melalui proses yang panjang dan ilmu tidak bisa diraih dengan bersantai-santai.

Sumber:

Lubis, Arif Rahman. 2016. The Real Muslimah. Jakarta : QultumMedia.

Leave a Comment

*

*