Home
Rumus 7×3, Rumus Jitu Sayyidina Ali Bin Ali Tholib

Rumus 7×3, Rumus Jitu Sayyidina Ali Bin Ali Tholib

Mendidik anak tentu bukanlah suatu hal yang mudah, mendidik merupakan suatu tugas yang berat bagi kita semuanya khususnya bagi orang tua dan juga guru. Seorang pendidik yang berhasil yaitu yang bisa menghasilkan anak didik yang sholih dan sholihah dan berkualitas sudah tentu menjadi amal jariyah yang pahalanya akan mengalir sepanjang masa. Namun bagi pendidik yang gagal, yaitu seorang pendidik yang “asal – asalan” akan menjadi petaka baginya dan bagi anak didiknya menjadi jariyah yang tidak baik.

Banyak sumber yang bisa digali untuk mencari informasi mengenai cara mendidik anak yang baik dan benar, mulai dari tafsir Al Qur’an, riwayat – riwayat hadist, siroh nabawiyah, buku, internet, hingga berkonsultasi dengan ahli yang kompeten di bidangnya . Berbicara tentang tokah ahli pendidikan yang tak boleh kita tidak tahu sebagi seorang muslim, seorang ahli pendidikan yang sangat hebat adalah sayyidina Ali bin abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu sosok khalifah ke-4 yang juga shabat Nabi Muhammad SAW.

Kehebatan Sayyidina Ali dalam mendidik anak, beliau menciptakan rumus jitu yang sangat teruji keabsahannya. Terbukti beliau merupakan sosok ayah yang sangat berhasil dalam mendidik anak – anaknya. Menghasilkan bibit – bibit unggul yang shalih dan shalihah yang tentunya berorientasi pada kesuksesan di dunia juga di akhirat.  Rumus yang akrab dikenal oleh para ahli pendidikan Islam saat ini dengan “Rumus 7×3”. Lalu, seperti rumusnya ?

1. Usia 0-7 tahun

Menurut Ali bin Abi Thalib, 7 tahun pertama dalam mendidik anak diibaratkan dengan memperlakukan mereka layaknya raja.

Di mana orangtua sebaiknya ‘melayani’ anak disertai sikap yang lemah lembut, tulus, dan sepenuh hati ketika mengasuh anak.

Tapi, bukan berarti harus memanjakannya anak. Tetaplah bersikap tegas dengan penuh kasih sayang.

Jika ingin memberitahukan suatu hal, gunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti serta tanpa kekerasan.

Anak-anak pada usia ini akan menghabiskan banyak waktu untuk eksplorasi sehingga cenderung senang bermain.

Hal tersebut sangat wajar dan sebaiknya orangtua terus mendampingi sebagai bentuk stimulasi tumbuh kembang.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa anak akan banyak meniru orang lain di sekitarnya. Jadi, berikan anak teladan yang baik dengan memberikan contoh yang baik.

2. Usia 7-14 tahun

Usia 7-14 tahun, mendidik anak diibaratkan seperti tawanan. Dikutip dari BincangSyariah, tawanan biasanya dikenakan berbagai macam aturan yang berisi kewajiban dan larangan, tetapi mereka juga mendapatkan haknya secara proporsional.

Orangtua pun diharapkan dapat menakar hak dan kewajiban anak dengan seimbang. Pada usia ini, anak dapat diajarkan tentang kewajibannya karena sudah mulai memahami arti tanggung jawab serta konsekuensi. Kewajiban yang diberikan orangtua pada anak dapat berupa ajaran agama. Misalnya, kewajiban untuk menjalankan salat 5 waktu. Sama halnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, beliau mulai memerintahkan seorang anak untuk melaksanakan salat wajib mulai usia 7 tahun. Bahkan, orangtua diperbolehkan memukul atau memberikan hukuman seperlunya jika anak berusia 10 tahun meninggalkan salat.

Namun, definisi “memukul” yang diperintahkan Rosul ini harus dapat kita pahami dengan benar. Rosulullah Saw meruapakan sosok yang halus dan penuh kasih sayang, tentu “memukul” yang di maksud adalah dalam konteks mendidik, dengan penuh kasih sayang dan bukan dalam konteks kekerasan. Mendidik dengan kekerasan tidak dianjurkan karena setiap anak memiliki kemampuan dan proses belajar yang berbeda. Cukup berikan penjelasan pada anak agar mereka dapat menjalankan kewajiban salat 5 waktu. Selain itu, berikan juga apresiasi pada anak sehingga ia merasa termotovasi atas usaha dan perbuatan positifnya.

4. Usia 14-21 tahun

Tahun ketiga terakhir yang dimaksud Ali Bin Abi Thalib ialah saat anak telah akil baligh, usia 14-21 tahun. Orangtua dianjurkan untuk memperlakukan anak sebagai sahabatnya.

Hal ini karena buah hati semakin tumbuh besar dari masa anak-anak menuju remaja dan akhirnya menjadi dewasa. Bersikaplah layaknya sahabat sehingga mereka dapat terbuka dalam segala hal pada Mama dan Papa.

Ajak mereka untuk diskusi banyak hal. Jadi, bisa saling menambah wawasan karena adanya perbedaan zaman dengan anak mungkin akan menimbulkan pandangan atau pengalaman baru bagi orangtua.

Ajarkan anak tentang tanggung jawab yang lebih besar sebagai bentuk persiapannya di kehidupan mendatang.

Bantu mereka menemukan potensi, lalu kembangkan, arahkan anak untuk tumbuh sebagai sosok yang percaya diri, pemberani, serta bertanggungjawab.

Selain itu, latihlah anak untuk mandiri karena kehidupan mereka tidak bisa selalu bergantung pada orangtua, teman, atau orang lain.

Di usia ini orangtua juga boleh membebaskan anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Namun, sebaiknya tetap diberi pengawasan untuk mencegah anak pada hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Jangan lupa untuk menjelaskan tentang sebab akibat atas perilaku yang ia lakukan, dan tanamkan rasa tanggung jawab agar anak berkembang menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Mudah – mudah dengan artikel ini menjadi wasilah bagi kita seorang pendidik dapat lebih memahami, lebih bijak dan arif dalam menjalankan amanah Allah kepada kita yaitu mendidik.

Allahu a’lamu bissowab.

 

-Nuruddin Al Faqir Al Muta’alim-

6 Comments

Leave a Comment

*

*