Home
REFLEKSI TENTANG HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA BAGI UMAT ISLAM

REFLEKSI TENTANG HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA BAGI UMAT ISLAM

 

Sains merupakan aspek yang penting dalam kehidupan manusia sepanjang zaman, sains juga merupakan salah satu jalan untuk mencari kebenaran, yaitu kebenaran obyektif. Sedangkan penerapan sains dalam dunia modern diakui telah menghasilkan banyak teknologi yang membuat kehidupan manusia lebih mudah dan fleksibel. Walaupun begitu sains cenderung menjadi hal yang dinisbatkan menjadi satu-satunya jalan menuju kebenaran, sehingga sebagai akibatnya kita sering menghadapi benturan antara sains dan agama. Pada hakikatnya sains sebenarnya hanya berbicara tentang realitas obyektif tentang alam dan manusia, padahal sesungguhnya agama berbicara tentang manusia seutuhnya yaitu tubuh, ruh dan alam seluasnya, yaitu alam nyata dan alam gaib, serta kenyataan seluruhnya, yaitu alam beserta Tuhan yang maha pencipta, jadi sebenarnya terdapat titik temu antara keduanya yaitu pada masalah manusia dan alam sehingga sebenarnya Tidak ada pertentangan diantara keduanya. Namun dalam perjalanan sejarahnya beberapa abad setelah renaisans, revolusi sains diikuti revolusi industri dan revolusi informasi, pengetahuan ilmiah kita tentang diri dan alam lingkungan kita telah berubah secara tajam, sayangnya gambaran yang baru itu untuk banyak orang cenderung menegasikan gambaran yang diberikan oleh agama-agama dunia yang manapun, karena itulah agama makin ditinggalkan.

Hal ini terjadi jika kita hanya melihat pada tataran permukaan saja, padahal seharusnya kita melihat bahwa sebenarnya teologi hanyalah merupakan konstruksi intelektual manusia yang mencoba memahami pesan-pesan religius para nabi . Dengan demikian, kita hanya berani menghadapkan teologi dengan sains dan membuat keduanya berkembang secara dialektis dan komplementer untuk memecahkan permasalahan umat manusia yang ditimbulkan oleh penerapan sains yang semakin maju itu. Ian G Barbour misalnya adalah salah seorang pemikir yang sangat sadar akan hal itu. Oleh karena itu ia selalu mencoba memetakan hubungan sains dan agama. Menurutnya anatar sains dan agama terdapat empat varian hubungan yaitu: konflik, independensi, dialog dan integrasi.2 Dalam hubungan konflik, sains menegasikan eksistensi agama dan agama menagasikan sains, masing-masing hanya mengakui keabsahan eksistensi dirinya. Sementara ihi dalam hubungan independensi, masing masing mengakui keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan bahwa antra sains dan agama tidak ada titik temu satu sama lainnya. Sedangkan dalam hubungan diolog diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan antara para ilmuan dan agamawan, bahkan bisa saling mendukung. Sedangkan yang keempat adalah integrasi, dia menyatakan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan agama dan sains. Yang pertama disebutnya sebagai teologi natural dan yang kedua teologi alam.

Syaikh Tantawi Jauhari tokoh mufasssir ‘ilmi, membuat perumpamaan bahwa Umat Islam dengan umat lain bagaikan suatu rombongan musafir yang akan melakukan perjalanan jauh menuju suatu tujuan, maka sebagian dari rombongan itu naik kuda, bigal, keledai, dan kuda, sedangkan sebagiannya yang lain menumpang kereta api, mobil dan pesawat terbang. Maka sudah barang tentu rombongan yang hanya naik unta tersebut datangnya akan terlambat sedangkan rombongan yang menumpang kereta api dan bahkan pesawat jauh lebih dahulu datangnya. Kelompok pertama tidak mau menumpang pesawat dengan dalih tidak mau meninggalkan tradisi orang-orang tua mereka, sedangkan kelompok yang kedua beralasan bahwa kita harus mempergunakan akal pikiran, memilih yang lebih baik dan yang lebih sempurna.3 Namun masalahnya di kalangan Umat Islam sendiri, kondisinya dapat dikatakan lebih parah. Kenyataan bahwa umat Islam tertinggal dalam bidang sains dan lebih banyak berposisi sebagai konsumen sudah tidak terbantahkan lagi. Kondisi seperti ini tidak hanya memunculkan pertanyaan Bagaimana respon Islam terhadap sains?, tetapi juga pertanyaan Haruskah kemudian umat Islam mengadopsi saja semua sains Barat yang dipandang sudah lebih maju atau mengembangkan sains versi umat Islam sendiri, entah dengan cara apa?, sementara di kalangan umat Islam sendiri sudah cukup lama muncul perdebatan antara yang pro dan kontra sains Barat.

Di satu sisi ada yang dilanda catching up syndrome, yaitu satu pandangan bahwa begitu umat Islam menguasai sains dan teknologi Barat, maka mereka akan menyamai Barat. Orang-orang dalam kelompok ini seakan mengikuti semboyan if we cannot beat them, then join them. Secara lebih sophisticated kelompok ini berargumen bahwa sains moderen itu universal, bebas-nilai, obyektif dan bermanfaat, termasuk argumen pragmatis bahwa sains Barat itu merupakan unsur esensial agar umat Islam bisa survive di tengah pergulatan zaman saat ini. Penguasaan sains jelas penting karena terbukti bahwa sains menjadi salah satu kunci kemajuan peradaban, namun mengadopsi secara membuta sains Barat yang saat ini sedang berada di puncak kejayaannya dapat dikatakan juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana, karena sebenarnya, teori-teori dalam sains itu tidak sekedar deskripsi dari fakta-fakta eksperimental atau sesuatu yang diderivasikan dari deskripsi tersebut, tetapi sebenarnya fakta-fakta tersebut telah dideskripsikan berdasarkan teori-teori tertentu dan teori-teori itu disusun dengan dasar asumsi filosofis tertentu yang tidak pasti sesuai -atau setidaknya tidak pasti disetujui— oleh setiap orang atau komunitas.

9 Comments

Leave a Comment

*

*