Home
Pondok Pesantren Terpadu di Era 4.0

Pondok Pesantren Terpadu di Era 4.0

Oleh: As’ad Nurul Akhil

Abstrak

Pada pertengahan abad ke-19 istilah revolusi industri pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis Auguste Blanqui, revolusi industry terus berjalan dan berkembang dari masa ke masa melalui sejumlah fase, decade terakhir ini sudah memasuki fase 4.0. Dampak dari perkembangan yang semakin maju hingga mencapai fase 4.0 ini merupakan kebutuhan akan adanya inovasi kreatif, terkhusus di bidang pendidikan. Pendidikan islam yang berbasis pesantren di samping mempunyai kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan diniyah (agama) juga berwenang untuk menyelenggarakan jenis pendidikan lainnya yang dikelola secara terpadu. Pendidikan terpadu merupakan konsep yang memadukan beberapa aspek baik dari sisi nilai maupun dari sisi kelembagaan. Model pesantren Neo-progsesif termasuk dalam kategori pesantren yang menerapkan pendidikan terpadu. Diera 4.0 ini aspek aspek yang ada didalam kehidupan harus mengikuti zaman yang ada.

Kata Kunci: Pesantren, Islam

Pada pertengahan abad ke-19 istilah revolusi industri pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis Auguste Blanqui, revolusi industry terus berjalan dan berkembang dari masa ke masa melalui sejumlah fase, decade terakhir ini sudah memasuki fase 4.0. perubahan dari satu fase ke fase lain 26 Ibid, 109 13 memberikan perbedaan artikutlatif pada sisi kegunaannya. Fase 1.0 (fase pertama) dimulai dari penemuan mesin yang menitik beratkan pada mekanisasi produksi. Fase 2.0 (fase kedua) sudah beranjak pada etape produksi masal yang terintegrasi dengan quality control dan standarisasi. Fase 3.0 (fase ketiga) memasuki tahapan keseragaman secara masal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase 4.0 (fase keempat) telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan Internet dengan manufaktur.

Dampak dari perkembangan yang semakin maju hingga mencapai fase 4.0 ini merupakan kebutuhan akan adanya inovasi kreatif pada stiap bidang kehidupan diantaranya, pendidikan, ekonomi, bisnis, kesehatan, dan lain sebagainya. Terkhusus bidang pendidikan merupakan menjadi aspek yang paling penting diperhatiakan, karena di bidang inilah manusia (peserta didik)dicetak untuk menjadi pribadi yang ahli dalam bidang-bidang lainnya. Tak terkecuali pendidikan dalam lingkup pondok pesantren yang juga dituntut untuk dapat menghasilkan output yang tidak hanya ahli dalam bidang keagamaan dan religious dalam tindak laku akan tetapi juga kompeten dalam pengetahuan dan bidang-bidang keahlian. Dari situlah diperlukan adanya inovasi untuk menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam yang mampu bertahan haruslah mengikuti perkembangan zaman.

Pendidikan islam yang berbasis pesantren di samping mempunyai kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan diniyah (agama) juga berwenang untuk menyelenggarakan jenis pendidikan lainnya yang dikelola secara terpadu termasuk di dalamnya adalah sekolah yang setara dengan SD, SMP, dan SMA maupun SMK. Jadi, keterpaduan antara pondok pesantren dan perguruan tinggi dapat membuat tujuan pendidikan di dapatkan secara utuh.aspek keagamaan, akhlak mulia dan kedalaman agama mereka peroleh dari pondok pesantren sedangkan aspek penguasaan terhadap aspek kecerdasan, kemampuan akademik, dan profesionalisme daidapat dari jenjang sekolah formal seperti SD, SMP, SMA, ataupun SMK.

Pendidikan terpadu merupakan konsep yang memadukan beberapa aspek baik dari sisi nilai maupun dari sisi kelembagaan yang mencakup beberapa hal yaitu: (1) terpadunya antara kepentingan dunia dan akhirat,(2) Terpadunya antara pengetahuan dan tata nilai, (3) Terpadunya antara ilmu umum dan ilmu agama,(4) Terpadunya antara kelembagaan mulai dari tingkat TK, SD, SMA, sampai perguruan tinggi, (5) terpadunya dalam arti yang luas yakni arti terpadu antara kepentingan pendidikan dalam transfer of knowledge sekaligus untuk tempat “penitipan anak”. 31 Jadi, keterpaduan antara beberapa aspek tersebutlah yang dapat menjadikan sebuah lembaga pendidikan disebut dengan terpadu, dalam hal ini, beberapa pesantren mengaplikasikan hal tersebut dalam konsep pendidikan yang diselenggarakan di lembaga mereka.

Model pesantren Neo-progsesif termasuk dalam kategori pesantren yang menerapkan pendidikan terpadu, dimana mereka mencoba untuk tetap mempertahankan kajian kitab-kitab klasiknya tapi juga membekali santrinya dengan berbagai keilmuan dan keterampilan modern. Dimana nantinya tujuan yang hendak dicapai bermuara pada integrasi antara keduanya untuk bisa meningkatkan kualitas alumni yang unggul dalam hal kemampuan akademik dan profesionalnya yang ditopang oleh kemampuan agama yang mumpuni.

Ajaran Islam memandang keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat adalah upaya pengintegrasian antara ilmu pengetahuan umum dan agama dalam pendidikan islam khususnya pondok pesantren seharusnya mengacu pada ajaran dasar islam tersebut yang pada dasarnya tidak mensortir antara dunia dan akhirat.33 Seperti halnya yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Qashas ayat 77 dan surah Al-Baqarah ayat 201.

وابتغ فيما اتىك الله الداراالخرة وال تنس نصيبك من الدنيا واحسن كما احسن الله اليك وال تبغ الفساد فى االرض. ان الله ال يحب المفسدين ﴿77

Artinya: Dan carilah pahala (pahala)negeri akhirat dengan apayang telah dianugerahkan Allah kepadamu di dunia dab berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.(QS. AlQashas:28:77).

ومنهم من يقول ربنا اتنا فى الدنياحسنة وفى االخرة حسنة وقنا عذاب النار﴿102

Artinya: Dan diantara mereka ada yang berdoa, “ya Allah tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari api neraka (QS. Al-Baqarah:2:201)

Di era industri 4.0 ini, dimana digitalisasi dan otomatisasi perpaduan Internet dengan manufaktur telah berlaku dalam setiap bidang kehidupan, dalam pendidikan harus juga mengikuti segala hal yang berkaitan dengan itu agar dapat selaras dengan zaman. Masalah lainnya muncul ketikasarana prasarana pendidikan juga harus berstandar digital dan internet tentunya dalam hal ini lembaga pendidikan memerlukan dana yang tidak sedikit untuk pengadaan alat-alat penunjang dan koneksi internet.

 Jadi, selain keterpaduan dalam sistem, pendidikan terpadu pesantren juga memerlukan kerja sama antara kiai (dalam hal ini sebagi pengasuh dan pemimpin pondok pesantren),guru atau staf pengajar, peserta didik dan walinya, lingkungan sekitar, dan juga pemerintah.

Daftar Pustaka

Hendra Suwardana, Revolusi Industri 4.0 Berbasisi Revolusi Mental, JATI UNIK, 2 (1) 2017, 102-110.
madjid Norcholis. 1997. Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.

Leave a Comment

*

*