Home
Perundungan atau Bullying Menurut Al-Quran

Perundungan atau Bullying Menurut Al-Quran

Perundungan atau Bullying Menurut Al-Quran

Bullying adalah salah satu peristiwa yang wajib dicegah sedini mungkin, mengingat dampak buruk yang akan alami korban dan pelaku. Peristiwa kekerasan ini bisa terjadi dimana saja, termasuk di dalam lingkungan sekolah baik dari jenjang sekolah dasar sehingga menengah.

Berdasarkan data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa), Bulliying atau perundungan adalah segala sesuatu penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja. Pelaku adalah satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa.

Bullying ini dilakukan terhadap orang lain secara terus menerus dengan tujuan menyakiti. Bullying dapat terjadi atau dilakukan antar peserta didik, guru, peserta didik kepada guru, atau sebaliknya.
Untuk mengatasi bulling diperlukan kerja sama seluruh komponen dan warga sekolah. Merupakan usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah bullying dikutip dari laman Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemendikbud RI. Pertama sosialisasi pemahaman perundungan di lingkungan sekolah. Hal ini penting yang akan menjadi dasar pencegahan perundungan adalah pemahaman terkait perundungan itu sendiri. Terlebih lagi kita ingat bahwa efek perundungan yang bisa menimbulkan trauma hingga dewasa. Sekolah harus dapat memberikan pemahaman mengenai perundungan kepada seluruh warga sekolah, baik guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik.

Pemahaman terkait perundungan dapat kita mulai dari hal-hal kecil seperti amanat pembina saat upacara, edukasi perundungan oleh guru di dalam kelas, ataupun membuat poster-poster terkait perundungan yang dipajang di lingkungan sekolah.
Kedua, lebih peka terhadap situasi dan kebutuhan korban, seluruh warga sekolah juga harus diberikan pemahaman dan latihan untuk memiliki rasa simpati dan juga empati kepada warga sekolah lainnya. Salah satunya adalah dengan cara memperhatikan atau mengamati ciri-ciri seseorang yang mengalami perundungan dan menawarkan bantuan yang sesuai. Ciri-ciri korban perundungan seperti sering cemas, sering menyendiri, tidak percaya diri, ataupun memiliki luka fisik/memar di tubuhnya.

Ketika kita melihat tanda-tanda tersebut, lakukanlah pendekatan dengan korban untuk mengetahui detail perundungan lebih lanjut. Kemudian, beri ia dukungan agar bisa bangkit melawan perundungan yang dialami.

Ketiga, warga sekolah juga bisa membuat kebijakan terkait aksi perundungan. Karena banyaknya peristiwa perundungan yang berakhir damai dan kurangnya mempertimbangkan efek psikologis korban, maka sekolah harus mampu membuat kebijakan, aturan, dan juga sanksi yang tegas berkaitan dengan aksi perundungan yang ada di lingkungan sekolah.
Sekolah dapat menerapkan mekanisme penanganan kasus yang tepat dengan menerapkan tindakan tegas dan tidak pandang bulu dalam menindak pelaku perundungan. Hal ini guna membuat calon-calon pelaku perundungan akan berpikir dua kali tatkala akan melakukan tindakan pengecut tersebut.

Keempat, sekolah memastikan jalur komunikasi yang terbuka untuk pelaporan kasus. Ketika ada perundungan yang terjadi di sekolah seringkali terlambat mengetahui atau merespon. Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki sistem mekanisme pelaporan kasus perundungan yang ada di lingkungannya.
Pembentukan mekanisme dan standar operasional untuk jalur komunikasi pelaporan yang aman dan sensitif adalah salah satu cara agar kasus perundungan bisa lebih terungkap. Tak jarang korban ataupun warga sekolah lainnya enggan untuk melapor karena takut menjadi sasaran perundungan selanjutnya.

Kelima, sekolah mengadakan kegiatan anti perundungan melalui program yang menyebarkan pesan atau perilaku kebaikan untuk membangun norma yang menentang perundungan. Program-program ini dapat dimasukan ke dalam kegiatan intrakurikuler maupun nonkurikuler. Sebagai contoh kegiatan anti perundungan yang dapat dilakukan seperti Antibullying Day, kegiatan-kegiatan keagamaan, penandatangan deklarasi anti perundungan oleh seluruh warga sekolah, ataupun ide-ide kreatif lainnya. Cara sekolah mencegah bullying tentunya akan sukses dan berhasil apabila seluruh ekosistem sekolah turut mendukung. Selain itu, dari paparan diatas tentunya yang paling penting dengan adalah menanamkan nilai-nilai dan syariat islam secara utuh serta meneladani akhlak Rasulullah Muhammad ﷺ. Dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 11:
ﵟيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١ ﵞ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”

Menurut Tafsir Al-Maraghi, ayat ini turun berkenaan dengan teguran atas ejekan yang dilakukan oleh Bani Tamim kepada para sahabat Rasul yang miskin. Terdapat beberapa term yang berkaitan dengan bullying secara umum dalam ayat ini. Pertama, yaskharu (mengolok-olok), yaitu menyebut kekurangan orang lain dengan tujuan menertawakan yang bersangkutan.

Kedua, talmizu (mengejek) baik dengan perkataan langsung atau isyarat. Ketiga, tanabazu yakni saling memberi gelar yang buruk. Ketiga jenis perbuatan tersebut termasuk dalam kategori bullying. Namun selain itu, Alquran juga menyebutkan beberapa perbuatan lain seperti mengumpat (Q.S.Al-Humazah:1), menggunjing dan berprasangka buruk (Q.S.Al-Hujurat:12).

Jika kita lihat, perundungan bukan hanya menimbulkan perasaan malu bagi korbannya, namun juga terselip perasaan bahwa kita yang membully ini lebih baik dari padanya. Lebih jauh lagi, surah al-Hujurat ayat 11 mengajarkan agar kita senantiasa introspeksi diri lebih dulu sebelum menilai baik buruknya orang lain. Bagi warga sekolah yang tidak bisa membijaki diri sendiri, akan sangat mudah terseret dan pada akhirnya ikut menjadi pelakunya tanpa disadari. Padahal Alquran telah memberi peringatan, “boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”
Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sisi positif dan negatifnya. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Oleh karena itu, manusia yang bijak adalah yang mampu membedakan dan menyikapi kedua sisi itu dengan baik, bukan memandang apalagi merendahkan hanya dari satu sisi saja. Kita terkadang tidak tahu dan tidak merasakan dampak hebat seperti apa yang ditimbulkan oleh perilaku bullying itu.

Perundungan terjadi disebabkan karena kurang terjalinnya rasa persaudaraan di antara sesama. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
ﵟإِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠ﵞ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 10)
Dalam Islam, bullying adalah perbuatan yang sangat tercela. Bagaimana cara mengatasinya? Yakinkan anak agar bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, apabila terus-terusan mendapatkan perundungan, kita harus mengajarkan anak untuk melawan. Setidaknya menunjukkan perlawanan secara non-verbal berupa roman muka tegas dan menunjukkan keberanian dalam bersikap.
Memang sulit untuk mendapatkan info dari korban perundungan sehingga dirasakan sulit untuk mendapatkan bukti-buktinya. Namun orangtua bisa memancing anak untuk bercerita tentang kesehariannya di sekolah karena bisa jadi dia takut dan malu untuk bercerita. Korban akan terdiam dan berdampak pada kejiwaannya,. Hal ini akan sangat berbahaya bagi kepribadian sang anak. Oleh karena itu, pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati sangat tepat diterapkan dalam kondisi seperti ini.
Islam mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Sebagai salah satu bentuk ikhtiar kita untuk mencegahnya, apabila kita mendengar anak kita mendapatkan perundungan, tidak ada salahnya sebagai orangtua, kita mengajak anak yang suka merundung untuk main ke rumah lalu diberi suguhan dan diajak ngobrol santai, buat dia nyaman. Diharapkan dia akan merasa sungkan bahkan mungkin dia yang akan menjadi pelindung korban di sekolah saat dijahili oleh anak lain.

12 Comments

Leave a Comment

*

*