Home
PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IMAM AL GHAZALI

PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IMAM AL GHAZALI

Pengertian Pendidikan

Menurut Al Ghazali, pendidikan Islam adalah pendidikan yang berupaya untuk pembentukan insan paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Al Ghazali pula manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila ada keinginan untuk  berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selanjutnya dapat membawanya untuk dekat kepada Allah dan akhirnya membahagiakannya hidup di dunia dan akhirat.
Bagi Al Ghazali, ilmu adalah medium untuk taqarrub kepada Allah, dimana tak ada satu pun manusia bisa sampai kepada-Nya tanpa ilmu. Tingkat termulia bagi seorang manusia adalah kebahagiaan yang abadi. Di antara wujud yang paling utama adalah wujud yang menjadi perantara kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu dan amal, dan amal tak mungkin dicapai kecuali jika ilmu tentang cara beramal dikuasai. Dengan demikian, modal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu, tak lain adalah ilmu. Maka dari itu, dapat disebut ilmu adalah amal yang terutama.

Tujuan Pendidikan Islam

Al Ghazali menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan  keagamaan dan akhlak, dimana fadhilah (keutamaan) dan taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan.4 Menurut Al Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan paripurna, baik di dunia maupun di akhirat.

Menurut Imam Al Ghazali pula manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selanjutnya dapat
membawanya untuk dekat kepada Allah dan akhirnya membahagiakannya hidup di dunia dan di akhirat.

Menurut Al Ghazali tujuan utama pendidikan Islam itu adalah ber-taqarrub kepada Allah Sang Khaliq, dan manusia yang paling sempurna dalam pandangannya adalah manusia yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, kegiatan yang dilakukan dalam proses pendidikan yaitu mata pelajaran yang mendekatkan diri kepada Allah seperti Aqidah, Aqidah Akhlaq, Nahfu Sorof, Fiqih, Hadist, Tarekh/ Siroh, dan Al qur’an. kegiatan pendidikan seperti itu biasanya dilakukan diruang lingkun Pondok Pesantren.

Metode dan Kurikulum Pendidikan Islam

1. Metode Pendidikan Islam Dalam rangka mewujudkan konsep pendidikannya, Al Ghazali menggunakan metode

pengajaran yang menggunakan keteladanan, pembinaan budi pekerti, dan penanaman sifatsifat keutamaan pada diri muridnya. Hal ini sejalan dengan prinsipnya yang mengatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan erat antara dua pribadi, yaitu guru dan murid.
Pendidikan agama dan akhlak merupakan sasaran Al Ghazali yang paling penting. Dia memberikan metode yang benar untuk pendidikan agama, pembentukan akhlak dan pensucian jiwa. Dia berharap dapat membentuk individu-individu yang mulia dan bertaqwa, selanjutnya dapat menyebarkan keutamaan-keutamaan kepada seluruh umat manusia. Dalam uraiannya yang lain, Al Ghazali menjelaskan bahwa metode pendidikan yang harus dipergunakan oleh para pendidik/pengajar adalah yang berprinsip pada child centeredatau yang lebih mementingkan anak didik daripada pendidik sendiri.Metode demikian dapat diwujudkan dalam berbagai macam metode antara lain:
1) Metode contoh teladan
2) Metode
guidance and counsellling (bimbingan dan penyuluhan)
3) Mtode cerita
4) Metode motivasi
5) Metode
reinforcement (mendorong semangat)

Jadi berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode pendidikan menurut Al Ghazali diklasifikasikan menjadi dua bagian:
1.
Metode Pendidikan Agama, yaitu dengan menggunakan metode hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil yang menunjang penguatan akidah. .
2.
Metode Pendidikan Akhlak, yaitu dengan menggunakan keteladan, latihan dan pembiasaan

2. Kurikulum Pendidikan 

Islam Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al Ghazali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Al Ghazali agaknya menginginkan bahwa umat Islam memiliki gambaran yang makro, dan utuh tentang agama, yang diyakininya sebagai sumber ilmu pengetahuan dan landasan yang dipahami dengan sungguh-sungguh yang pada kenyataannya kemudian menjadi cara berpikir yang penting
dalam memberikan kerangka bangunan ilmu pengetahuan.
Beliau telah membagi ilmu pengetahuan yang terlarang dipelajari atau wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok ilmu, yaitu:
a. Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tak ada manfaatnya bagi manusiadi dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, nujum, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudarat dan akan meragukan kebenaran adanya Allah.

b. Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya ilmu tauhid, ilmu agama. Ilmu ini jika dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
c. Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, ang tidak boleh didalami, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman dan
ilhad, misalnya ilmu filsafat.

Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al Ghazali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari kepentingannya, yaitu:
1) Ilmu-ilmu yang
yang wajib dipelajari oleh semua orang Islam meliputi ilmuilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari kitab suci al-qur’an dan hadits.
2) Ilmu yang merupakan f
ardhu kifayah untuk dipelajari setiap muslim. Ilmu ini adalah ilmu yang dimanfaatkan

untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Al Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di
sekolah sebagai berikut:
a) Ilmu al-qur’an dan agama seperti hadist, tafsir, dan aqidah

b) Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta lafaz-lafaznya, karena ilmu ini berfungsi membantu agama.
c) Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, yaitu ilmu kedokteran, matematika, dan teknologiyang beraneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
d) Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat

22 Comments

Tinggalkan Balasan ke Shobar Batalkan balasan

*

*