Home
“Perjuangan Cinta dalam Diam”

“Perjuangan Cinta dalam Diam”

Wanita ini adalah putri kesayangan dan kebanggaan Rasulullah SAW. Hatinya yang lembut, begitu tampak saat melihat Rasulullah terluka karena dikeroyok kaum Quraisy.

Dengan berurai air mata, dia menyeka darah yang mengucur di wajah Rasulullah. Serta sepenuh cinta dan kasih sayang, dia bersihkan kotoran unta yang menempel di badan Rasulullah. Dia adalah putri bungsu Rasulullah dengan Khadijah. Namanya Fatimah Az-Zahra.

Menginjak usia remaja, dia seperti bunga yang baru mekar. Banyak orang yang ingin meminangnya sebagai istri. Sahabat-sahabat Rasulullah yang memiliki peran besar dalam menegakkan Islam pun silih berganti untuk meminang sang putri pujaan.

Namun diam-diam, ada seorang pemuda gagah yang memendam cinta pada Fatimah. Dia hanya mampu menyimpannya dalam hati. Karena dia merasa miskin dan tak memiliki kelebihan lainnya. Semakin lama dia pendam, cinta itu semakin menguat.

Dia bertekad untuk berangkat hijrah dan akan bekerja untuk mencari uang agar bisa melamar Fatimah. Sayang sekali, di tengah-tengah giatnya bekerja, dia mendengar kabar mengagetkan yang menohok hatinya.

Kabarnya, sahabat setia Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar, datang melamar Fatimah. Serta merta, Ali kembali menyimpan cintanya rapat-rapat. Dan merelakannya untuk orang lain. Apalagi orang itu sehebat Abu Bakar.

Tak berapa lama, Ali mendengar kabar bahwa lamaran Abu Bakar ternyata ditolak. Harapan itu kembali mekar dalam hatinya. Dia melanjutkan pekerjaannya dengan giat, agar bisa segera memiliki uang untuk dijadikan mahar.

Semangat itu mulai tumbuh lagi, karena ada impian yang akan dikejar. Tapi lagi-lagi dia mendengar kabar yang mematahkan harapannya. Bahwa Umar bin Khattab melamar Fatimah pujaannya. Hatinya pun kembali terkulai.

Di tengah padamnya harapan tentang cinta pada Fatimah pujaannya itu. Ali mendapat kabar bahwa lamaran Umar juga ditolak.

Serta merta, hatinya merasa gembira dan harapannya kembali tumbuh. Apalagi sahabat-sahabatnya dari golongan Anshor, tiba-tiba memberi semangat agar Ali segera mengajukan lamaran. Siapa tahu, Fatimah memang sedang menunggu lamaran Ali.

Ali pun serasa mendapat peluang kembali untuk mewujudkan harapannya. Dia memberanikan diri untuk mendatangi Rasulullah. Sekembalinya dari rumah Rasulullah, para sahabat sudah tak sabar ingin mengetahui bagaimana sambutan Rasulullah kepada Ali.

“Bagaimana jawaban Rasulullah untukmu, Ali?”

Ali menggeleng.

“Aku tak tahu, sahabatku,” jawab Ali.

“Memangnya apa yang beliau katakan?” tanya para sahabatnya.

Rasulullah hanya mengatakan ahlan wa sahlan.”

Para sahabatnya merasa dipermainkan Ali. Sampai mereka ikut bersorak gembira.

“Tuh kan bener, berarti sebetulnya Rasulullah sedang menanti nyalimu, wahai Ali.”

Sebagian lagi bahkan mengatakan bahwa jawaban itu sebagai tanda diterimanya lamaran Ali.

“Ketahuilah kawan, lamaranmu itu mendapat sambutan yang begitu besar. Sampai-sampai Rasulullah menjawab dengan dua kata ahlan dan sahlan. Itu adalah tanda sambutan yang sangat menggembirakan.”

Dan memang betul, Rasulullah dan Fatimah sedang menunggu keberanian Ali. Saat Ali mengeluhkan tak punya mahar pun, Rasulullah segera menyarankan Ali untuk menggadaikan baju besinya. Ali juga menerima banyak sumbangan dari para sahabatnya untuk membeli rumah.

Namun kata Rasulullah, Ali harus membayar rumah itu dengan cara mencicil. Karena itu untuk menunjukkan harga diri sebagai seorang pemuda. Dan dengan keberanian ini pula, Ali dikenal sebagai pemuda pemberani pada masa itu. sampai-sampai ada istilah terkenal: La fatan ila ‘aliyyan yang artinya tidak ada pemuda kecuali Ali.

Inilah jalan cinta yang harus dilalui Ali dan Fatimah. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Dan yang dilakukan Ali adalah mempersilahkan, serta mengambil kesempatan.

Dia mempersilakan dengan niat berkorban untuk dia yang dicintai. Sedangkan saat mengambil kesempatan, dia mengandalkan keberanian untuk bertanggung jawab atas cintanya.

Dan rupanya, cinta Ali memang tak bertepuk sebelah tangan. Keduanya saling mencintai dalam diam. Saking rapinya mereka menyembunyikan rasa cintanya, sampai-sampai setan pun tak tahu perasaan mereka masing-masing. Dan ini baru diketahui setelah Ali menikah dengan Fatimah. Di malam pertama pernikahannya, Fatimah berkata terus terang.

“Duhai Ali kekasihku, tahukah engkau bahwa sebelum menikah denganmu, aku tertawan oleh perasaan cinta pada seorang pemuda?”

Ali langsung kaget saat mendengar pengakuan ini. Dia tak mengira jika Fatimah mencintai seorang pemuda. Ali yang mengerti perasaan Fatimah, tak ingin membuat Fatimah terluka perasaannya.

“Masya Allah, dimanakah pemuda itu? Aku rela menceraikanmu jika cintamu telah kau jatuhkan untuk pemuda itu. Jangan sampai kau terpaksa menikah denganku karena sekadar menyetujui keputusan Rasulullah,” ucap Ali.

Fatimah menggeleng.

“Pemuda itu kini ada dihadapanku. Engkau satu-satunya pemuda yang kucintai.”

Subhanallah. Ternyata cinta suci yang tak diumbar itu akhirnya dipertemukan Allah dengan cara yang bersih. Mereka berdua tak mengumbar rasa cintanya, sehingga Allah mempertemukan keduanya melalui proses yang lebih diridhai Allah. Pernikahan mereka pun bahagia sampai akhir hayat.

-Alfian Rafi Al Fakir

10 Comments

Leave a Comment

*

*