Home
Peristiwa yang Melatarbelakangi Perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Peristiwa yang Melatarbelakangi Perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Peristiwa yang Melatarbelakangi Perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW-, Ada sebuah peristiwa besar yang telah dicatat oleh sejarah Islam, yakni Isra Mi’raj. Isra Mi’raj merupakan perjalanan satu malam Nabi Muhammad SAW yang mana di dalamnya Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah SWT untuk mendirikan sholat lima waktu dalam sehari semalam.

Sebetulnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Namun karena keduanya terjadi pada waktu yang bersamaan maka kita sering menyebutnya dengan Isra Mi’raj. Isra merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

Sebagaimana dalam firman Allah Surah Al-Isra ayat 1:

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra:1)

Tahukah saudaraku? Tidak ada Nabi dan Rosul yang di-Isro Mi’raj-kan Allah kecuali Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Wahai saudaraku, Isra dan Mi’raj ini ada penyebabnya. Apa itu? Nabi SAW di awal dakwahnya menyampaikan tauhid Laa ilaaha illallah, tidak lepas dari pada ujian, halangan orang-orang Quraisy, terkadang Nabi SAW disakiti oleh mereka. akan tetapi, disekitar Nabi SAW ada yang masih sayang kepada Rasul, walaupun sedikit demi sedikit mulai diterima di Kota Mekkah. Dan orang-orang tersebut ada dua, yaitu Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid. Tapi ketika Abu Thalib meninggal dunia, maka kemudian orang-orang Quraisy berani menyakiti Rasul. Bahkan orang yang paling rendah di kalangan mereka pun berani meletakkan tanah di atas kepalanya Baginda Rasul, karena sudah tidak ada lagi yang melindungi Rasul. Kemudian setelah dua bulan sepeninggal pamannya (Abu Thalib) disusullah istri tercinta beliau yakni Khadijah binti Khuwailid. Maka tahun tersenut disebut dengan ‘Amul Hadzni (Tahun Kesedihan). Karena Rasul ditinggal oleh dua orang yang sangat berjasa dalam berdakwah. Dari sinilah kemudian Allah SWT menurunkan Surah Yusuf, seolah-olah Allah SWT ingin menghibur Rasul. Sebagaimana dahulu Yusuf, yang didzolimi oleh saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur, kemudian dipungut oleh para pedagang kemudian dijual ke Mesir. Belakangan Allah takdirkan yang beli adalah pejabat Mesir dan berakhir Yusuf menjadi orang besar Mesir. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa, walaupun pamanmu meninggal dunia, walaupun Khadijah meninggal dunia lihatlah Yusuf AS., Ia tetap tegar menghadapi dakwah yang Ia hadapi dari kaumnya. Maka turunnya Surah Yusuf ini menenangkan hati Rasulullah. Dari situlah Rasulullah SAW mulai mencari area untuk berdakwah di tempat yang baru. Karena di Mekkah sudah tidak bisa lagi berdakwah. Maka Rasulullah berjalan kaki sejauh 60 mil mengarah ke daerah yang di sebut Thaif. Sepuluh hari Rasulullah berdakwah di Thaif, dari kampung, dari rumah ke rumah. Tapi Subhanallah, rupanya ujian kedua menimpa Rasul. Karena orang-orang Thaif juga kurang lebih seperti orang-orang di Mekkah. Bahkan sebagian pembesar mereka mengatakan, Yaa Muhammad, jikalau betul Allah mengutus engkau menjadi Nabi dan Rasul, ku robek-robek kiswah Ka’bah. Sebagian mereka mengatakan “Kenapa Allah mengutus Anda wahai Muhammad? Bukankah orang yang mulia sekelas Abu Jahal, sekelas Abu Sufyan, sekelas Umayyah mereka lebih berhak untuk jadi Rasul dibandingkan dirimu”. Intinya Rasulullah SAW ditolak disitu. Akhirnya Rasulullah SAW dilempari batu sejauh tiga mil sampai keluar dari Thaif.

Ketika Nabi Muhammad SAW keluar dari Thaif, Nabi mengalami kebingungan. Mau ke Mekkah, orang-orang Mekkah sudah menolak. Mau kembali ke Thaif, orang-orang Thaif menyakiti dirinya. Akhirnya Nabi berhari-hari di perbatasan kota Mekkah. Disinilah Allah SWT kirim satu utusan, bukan malaikat bukan juga manusia. Utusan itu dari kalangan jin. Rupanya ketika manusia menolak dakwahnya Nabi SAW, di waktu yang sama jin menerima dakwah Rasul. Ketika Rasul sedang shalat di kebun kurma di perbatasan kota Mekkah. Datanglah rombongan jin dari Yaman, kemudian mendengar Rasul sedang membaca Al-Qur’an, kemudian tertarik dan beriman kepada Allah. Akhirnya jin-jin ini pulang ke Yaman, mendakwahi dakwah Islam dan ribuan jin-jin Yaman masuk Islam. Subhanallah.

Setelah itu Nabi mencari perlindungan dan kembali ke kota Mekkah dengan hati yang sempit.

Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami tahu wahai Muhammad, hatimu sesak, dadamu sempit terhadap apa yang ,ereka katakan kepada dakwahmu”.

Maka ketika Nabi SAW hampir berputus asa dalam berdakwah, di malam hari inilah ketika Nabi SAW sedang tertidur lelap. Tiba-tiba Jibril datang dari langit menembus atap rumah Rasul. Jibril mengatakan, “Qum yaa Muhammad” (Bangun wahai Muhammad). Maka Nabi SAW bangun, tiba-tiba ada dua malaikat membedah dada Rasulullah, mengambil jantungnya kemudian meletakkan di bejana yang terbuat dari emas dari Syurga dan dicuci dengan air zam-zam. Kemudian dimasukkan iman dan hikmah dan dikembalikan lagi kedalam jasadnya. Inilah pembelahan dada kedua setelah Nabi SAW dahulu ketika waktu kecil pernah juga dibelah dadanya dalam pangkuan Halimah Sa’diyah. Kenapa Nabi SAW dibelah dadanya kembali? Disucikan jantungnya, ada apa ini? Rupanya Nabi SAW dipersiapkan oleh Allah akan sebuah peristiwa besar yang akan dikenang oleh sejarah umat manusia satu-satunya manusia yang akan melebihi derajat malaikat bahkan seluruh makhluk-Nya. Rupanya Rasul disiapkan untuk perjalanan besar, perjalanan Isra dan Mi’raj. Karena Rasul akan diperlihatkan kekuasaan yang besar maka Rasul harus dipenuhi dengan keimanan, dipenuhi dengan hikmah supaya beliau mampu untuk mengambil pelajaran dari apa yang akan dilihat selama perjalanan.

Wahai suadaraku, shalat lima waktu adalah syariat islam yang diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi SAW tanpa perantara. Berbeda dengan syariat ibadah yang lainnya, yang mana diberikan kepada Nabi melalui perantara malaikat Jibril. Sungguh betapa hal ini menunjukkan bahwa syariat shalat dalam Islam adalah ibadah yang istimewa dan paling disukai Allah SWT.

Demikianlah peristiwa yang melatarbelakangi perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari sekelumit kisah dalam artikel ini. Senantiasa diberi hidayah dalam setiap langkah kehidupan kita dan bisa memupuk keimanan kita sehingga semakin subur hingga ajal menjemput. Aamiin yarobbal’alamin.

Oleh: Ustadzah Siti Aminah

 

22 Comments

Tinggalkan Balasan ke Siti nurwahidah Batalkan balasan

*

*