Home
“Peran Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Karakter”

“Peran Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Karakter”

Oleh: Azizah

Pesantren merupakan lembaga bimbingan pendidikan yang sudah teruji dalam sektor pendidikan keagamaan negri ini. Kontribusi kiai dan santri sangat jelas terekam dan nyata pada narasi sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan perkembangan dari masa lalu.

Kisah heroik pejuang kemerdekaan yang berasal dari pesantren banyak terungkap di buku-buku sejarah, media sosial, blog keagamaan , ensillopedia islami. Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 adalah bukti nyata seruan ulama-ulama pesantren yang terhimpun pada wakil-wakil daerah (konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura untuk jihad fisabilillah melawan kedzaliman ketika di jajah pada masa itu.

Pesantren juga sudah terbukti secara jelas memberikan pendidikan dan pencerahan bagi masyarakat. Melalui pesantren, Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, produktif, inovatif, toleran, religius, serta berwawasan global dikonstruksikan. Pesantren secara faktual dan berintegritas tinggi  telah menjadi salah satu contoh perubahan bangsa ini melalui kegiatan pendidikannya.

Kelebihan pesantren juga ada pada proses pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan agama tersendiri saja, tetapi juga terkait pada pendisiplinan diri dan keterampilan hidup. Apalagi banyak pesantren sudah terintegrasi dengan pendidikan formal dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi sehingga integrasi keilmuan agama dengan ilmu umum sudah sangat kuat serta memperkokoh basic yang telah ada.

Pendidikan pesantren bersifat menyeluruh yaitu meliputi olah pikir, oleh hati, olah karsa, dan olah raga. Olah pikir melalui proses pengkajian tafsir Al-Qur’an, pengajian kitab-kitab kuning ulama-ulama termasyhur, diskusi keagamaan, pendidikan bahasa, dan pelatihan pidato. Olah hati melalui aktivitas peribadatan seperti tadarus Al-Qur’an, shalat berjamaah, shalat sunnah, dan berdzikir. Olah karsa melalui kebiasaan saling menghargai, kerjasama, toleran dengan sesama santri, kiai, ustadz/ustadzah, maupun masyarakat di lingkungan pesantren. Olah raga melalui kegiatan latihan pencak silat maupun aktivitas fisik lainnya.

Alumni pesantren sendiri tak hanya berprofesi sebagai pendakwah, ustadz/ustadzah, guru agama, ataupun kiai. Mereka juga berprofesi sebagai pedagang, buruh, penulis, peneliti, arsitek, ekonom, dokter, wartawan, guru, politisi dan beragam profesi lainnya.

Alumni pesantren pun tak harus selalu melanjutkan ke Al Azhar, UIN, STAIN, atau institut dan universitas keagamaan lainnya. Sudah sejak lama para santri lulusan pesantren melanjutkan ke UI, UGM, ITB, Unair, Unpad, ITS, UPI, UNJ, dan perguruan tinggi lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Para alumni tersebar di mana saja, bahu membahu berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan memoerkokoh negara dalam banyak aspek.

Beberapa tokoh bangsa yang memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan berasal dari pesantren. Gus Dur adalah salah satu potret lulusan pesantren yang berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Ada juga Cak Nur, Cak Nun, KH Idham Chalid, Hidayat Nur Wahid, KH Hasyim Muzadi, Dien Syamsudin, Yudi Latief, maupun Menteri Agama saat ini Lukman Hakim Syaifudin yang sudah dikenal luas baik di Indonesia maupun dunia internasional.

Nama-nama tersebut membuktikan bahwa alumni pesantren tidak selalu bekerja di bidang keagamaan saja tetapi dan juga di bidang-bidang lainnya. Alumni pesantren tidak boleh gagap ketika berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Mereka dituntut aktif terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.

Leave a Comment

*

*