Home
“Pentingnya Karakter Pendidikan Pesantren di Era Milenial”

“Pentingnya Karakter Pendidikan Pesantren di Era Milenial”

Oleh: Ustadz Aza

Pesantren merupakan sistem pendidikan yang ideal dalam merawat karakter kebangsaan, karena dipesantren santri akan dilatih agar mempunyai etika moral, ritual, upacara keagamaan, kesenian dan kebudayaan bangsa. Pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang akan mencetak generasi Indonesia menjadi ulama’ besar, cendikiawa muslim dan juga generasi yang mempunyai karakter kebangsaan dan berakhlakul karimah. Di era perkembanagn teknologi informasi saat ini, pendekatan pembelajaran telah mengalami perkembangan yang sangat cepat sehingga dapat merubah pola pikir masyarakat. Ketersediaan teknologi informasi yang tersambung internet membuat semua orang dengan mudah untuk melakukan akses keilmuan. Sehingga pesantrenpun juga harus bisa mengaktualisasikan perkembangan tersebut yaitu dengan mengembangkan kurikulum pesantren yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman. Lantas bagaimana peran pesantren dalam menghadapi perkembangan globalisasi, strategi apa yang cocok dalam menghadapi generasi era millenial.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang berfokus pada pendidikan agama untuk meningkatkan kualitas keilmuan agama santri. Sehingga fokus pendidikan pesantren sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu pengetahuan agama (center of transmission of religious knowledge), memelihara tradisi Islam (guardian of the Islamic tradition), serta pusat untuk melahirkan ulama (center of ulama reproduction) (Azra & Afrianty, 2005). Pesantren atau biasa disebut dengan pondok pesantren atau pondokan (jawa)/surau (sumatra)  merupakan pendidikan tradisional Islam yang secara historis berdiri sebelum Indonesia merdeka (Azra & Afrianty, 2005; Lukens-Bull & Dhofier, 2000). Sebagai pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren menjadi pusat produksi pemikiran Islam dan penggerak peradaban Islam di Indonesai. Sehingga pesantren menjadi salah satu pendidikan yang ideal untuk memelihara karakter kebangsaan kita.

Mengapa pesantren dianggap menjadi pendidikan ideal dalam memelihara karakter kebangsaan Indonesia? Hal itu dikarenakan, dalam sejarah pendidikan di Indonesai, pesantren mempunyai ciri khas untuk memelihara sebuah tradisi dari leluhur baik dari segi etika moral, ritual, upacara keagamaan, kesenian dan kebudayaan Indonesia, agar meraka dapat terhubung dengan generasi selanjutnya, dengan begitu maka komponen persatuan Bangsa akan terjaga. Selain itu, pesantren juga menjadi wadah kaderisasi anak Bangsa yang akan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan dan melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Pahlawan Nasional “pangeran diponegoro” adalah seorang santri di salah satu pesantren Mlagi Yogyakarta, yang pada saat itu dia tidak hanya diajari ilmu-ilmu dasar keagamaan, akan tetapi juga dikenalkan dengan peradaban leluhur bangsa mulai dari sriwijaya, majapahit dan juga kitab-kitab tentang kebangsaan (Baso, 2012). Oleh sebab itu, dia sangat memahami akan keadaan rakyat jelata dan bisa hidup berdampingan untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Pesantren adalah sebuah pendidikan Islam yang pada dasarnya mementingkan sumberdaya manusia, baik secara kualitas mereka yang bersifat duniawi maupun ukhrawi secara integral (Gaus, 2017). Kualitas duniawi yaitu mempunyai kualitas keilmuan pengetahuan yang luas baik teori dan praktiknya, sedangkan ukhrawi yaitu merealisasikan muslim yang beriman, bertakwa, serta mengabdi pada Tuhan yang maha Esa serta ahli dalam ilmu keagamaan (tafaqquh fil-addin). Dengan seperti itu maka mereka (santri) akan menjadi manusia yang cukup secara keseluruhan (kaffa).

Pesantren merupakan pendidikan Islam yang mempunyai elemen kyai, santri, masjid/musolla, dan juga asrama buat santri (I. N. Aziz, 2017; Lukens-Bull & Dhofier, 2000). Sehingga di pesantren seorang santri di didik oleh kyai, kyai adalah seseorang yang mempunyai ilmu agama tinggi, di hormati serta di sakralkan karena keilmuannya. Akan tetapi definisi tersebut berbeda dengan statemennya Prof. Husain Aziz, dia menjelaskan bahwa yang dikatakan pesantren adalah tempat yang terdapat pembelajaran ilmu syaria dan juga tasawwuf (H. Aziz, 2017). Walaupun demikian, secara fenomenologis pesantren adalah tempat bagi santri untuk membelajari ilmu-ilmu keagamaan baik syaria maupun tasawwuf dan juga ilmu-ilmu grammatikal bahasa arab/kitab kining.

Generasi gudget atau biasa disebut generasi millenial marupakan generasi yang lahir di tahun 2000 an. Mark dalam tulisannya Gazali menyebutkan bahwa generasi yang lahir di tahun tersebut adalah generasi Alfa (Gazali, 2018). Secara karakteristik, generasi alfa adalah generasi yang ketika lahir sudah mengenal dengan teknologi industri, dimana teknologi berada dalam kecerdasan yang tinggi. Sehingga anak yang lahir di tahun tersebut mengakibatkan akan mempunyai dunia baru, mereka akan lebih banyak bermain, belajar secara mandiri dan juga dapat melakukan interaksi dengan dunia global melalui dunianya sendiri. Pada akhirnya ketika mereka dewasa, teknologi informasi akan menjadi dari hidup mereka dan bahkan menjadikan seperti halnya seorang kekasih. Generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, karena dengan perkembangan teknologi informasi, mereka akan dapat membentuk kepribadian dan sikap mereka.

2 Comments

  • As'ad berkata:

    Semoga dengan adanya pesantren Ini pendidikan islam semakin maju

  • Ditya Shabil Ichsan Azzam berkata:

    Cara terbaik pendidikan karakter adalah bagaimana orang tua mengerti tentang potensi anaknya dengan mengikuti cara Nabi dan diselingi pendidikan Modern tanpa menyelisihi syari’at.
    Dah.

Tinggalkan Balasan ke Ditya Shabil Ichsan Azzam Batalkan balasan

*

*