Home
Pentingnya Islam Untuk Kehidupan

Pentingnya Islam Untuk Kehidupan

Pada era masa kini, banyak terdapat kerusakan moral dan aspek keagamaan dalam kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat dari perilaku manusia di sekitar lingkungan kita sehari-hari. Atas hal tersebut, ini menjadi dasar adanya keterkaitan antara agama Islam dengan Psikologi.

Arti mengenai Islam, kata “islam” berasal dari Bahasa Arab aslama-yuslimu dengan arti tunduk dan patuh, berserah diri, menyerahkan, memasrahkan, mengikuti, masuk dalam kedamaian, keselamatan, atau kemurnian.
Dapat diartikan juga bahwa Islam adalah agama yang patuh dan mengimani kepada satu Tuhan saja yaitu ALLAH. Sebagai agama, Islam memuat seperangkat nilai-nilai yang menjadi acuan pemeluknya dalam berperilaku.
Sedangkan Psikologi itu sendiri, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam perilaku nyata yang dilakukannya. Objek formal dari psikologi yaitu jiwa manusia.

Untuk itu, bagaimana cara kita memahami apakah psikologi memiliki peran dalam Islam? Iya, Psikologi memiliki peran dalam Agama Islam yaitu dengan menggunakan beberapa acuan utama ;

• Pertama, Sumber-sumber hukum Islam seperti Al-Qur’an dan Hadist dijadikan sebuah landasan dasar untuk mengetahui kepribadian manusia itu sendiri. Dari sini Al-Qur’an sebagai pedoman manusia untuk membentuk kepribadian masing-masing individu.

• Kedua, segala aspek pengetahuan, pemikiran dan juga pendapat sebaiknya dipilih dan disaring terlebih dahulu sehingga, didalamnya terkandung wawasan tentang agama Islam yang benar pembuktiannya juga tidak bertentangan dengan sumber hukum Islam.

• Ketiga, mempelajari pola perilaku manusia.
Agama Islam, hakikatnya, adalah sistem keyakinan dan prinsip-prinsip hukum serta petunjuk perilaku manusia, yang didasarkan pada Alquran, Hadis dan Ijtihad ulama. Berdasarkan hal ini, Islam, paling tidak, mempunyai empat fungsi.

1. Islam berfungsi sebagai tuntunan bagi manusia agar memiliki al-akhlaq alkarimah (perangai yang mulia dan terpuji). Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq mulia.” Al-akhlaq al-karimah harus kita lakukan, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia dan alam di sekeliling kita.
2. Agama Islam itu berfungsi sebagai jalan untuk menggapai kemaslahatan, ketenangan dan kedamaian serta keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Tak satupun ajaran dari Islam, baik perintah maupun larangan, yang bertujuan untuk menciptakan kerusakan di muka bumi ini atau kesengsaraan di akhirat nanti. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini setelah Allah memperbaikinya …” (QS al-A’raf: 56).
3. Islam mengandung ajaran-ajaran yang moderat, seimbang dan lurus, atau al-din al-qayyim. Islam menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa-apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dalam (kenikmatan) dunia … (QS. al-Qashash: 77). Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa suatu ketika sekumpulan orang dari kalangan Sahabat Nabi berkunjung ke rumah-rumah istri Nabi Muhammad Saw untuk bertanya tentang ibadah Nabi. Setelah mendengar jawaban tentang hal ini, salah seorang dari mereka lalu mengatakan: “Saya akan salat tahajjud sepanjang malam.” Yang lain mengatakan: “Saya akan berpuasa setiap hari sepanjang tahun.” Yang lain lagi mengatakan: “Saya akan menjauhi perempuan, tidak akan menikah, dan akan menghabiskan hidup saya untuk beribadah.” Mendengar perkataan-perkataan mereka itu, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Kalian telah mengatakan begini dan begitu. Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang paling takut kepada Allah dan orang yang paling bertakwa kepada-Nya, tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya salat malam tetapi juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan golonganku.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Artinya, Islam tidak mengajarkan sikap ekstrem dalam bentuk dan dalam bidang apapun. Seandainya ada pandangan keagamaan yang mengarahkan untuk bersikap ekstrem dan radikal, baik dalam hal ritual keagamaan, ekonomi, politik dan lain sebagainya, maka kita harus mewaspadainya. Kita tidak perlu mengikutinya.
4. Agama mestinya berfungsi sebagai pemersatu umat yang berbeda-beda, baik dari segi keagamaan, suku dan adat istiadat. karena agama mengajarkan bagaimana berperilaku dan bersikap secara baik terhadap orang-orang yang berbeda-beda itu. Pemersatuan umat yang beragama ini telah dipraktikkan Nabi setelah memasuki Kota Madinah tahun 622 H dengan membuat Piagam Madinah yang mempersatukan umat Islam secara internal dan antara umat Islam dan umat-umat lain yang ada di sana, khususnya Yahudi dan Nasrani. Atas dasar hal tersebut, apabila ada pandangan, sikap dan prilaku seseorang yang cenderung memecahbelah umat, bahkan menimbulkan konflik horisontal, kita harus bersikap waspada, tidak perlu kita ikuti. Karena agama tidak mengajarkan hal itu.

~ Faridha Khairiah

27 Comments

Leave a Comment

*

*