Home
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Oleh: Iman Surya D

Abstrak

            Indikator sebuah lembaga pendidikan dikatakan maju tentu tidak hanya melihat pada tinggi rendahnya kuantitas peserta didik, melainkan juga melihat pada kualitas kompetensi yang dimiliki para peserta didik dan lulusannya, tidak hanya dari nilai akademik saja melainkan juga pada prestasi non akademik termasuk sikap dan perilaku peserta didik yang baik dan berkarakter mulia. Terkadang penulis menemukan sekolah berlabel Islam akan tetapi kurang mampu dalam membangun aspek religi para peserta didiknya. Dan jika terjadi penyimpangannorma agama, maka yang disalahkan pertama kali adalah pendidik mata pelajaranagama. Padahal sebenarnya membangun aspek religi dan menguatkan karakter
peserta didik adalah tugas bersama sebagai komunitas sekolah. Pendidikan merupakan kunci dalam membentuk karakter anak sejak dini, karena hakikat pendidikan tidak hanya sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of values, semua itu dilakukan untuk membangun karakter anak bangsa berkepribadian mulia serta menanggulangi kenakalan remaja dari berbagai penyimpangan sosial. Jika karakter individu didasari nilai-nilai agama sebagai pondasi/dasar utama maka akan lahir jiwa karakter yang kuat dan menjadi tunas bangsa yang kuat pula. Tujuan utama pendidikan karakter menurut Islam adalah membentuk kepribadian peserta didik sehingga memiliki etika, dan rasa berbudaya yang baik serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Islam, Nilai.

PENDAHULUAN
            Tidak sedikit pemerhati pendidikan kita yang sudah banyak membahas masalah pendidikan karakter di negeri ini, dari mulai konsep dasar sampai pada penerapannya baik dari jenjang sekolah dasar sampai menengah bahkan perguruan tinggi. Semua itu dilakukan karena kesadarannya yang tinggi akan pentingnya pendidikan karakter dengan sebuah harapan terpeliharanya generasi penerus bangsa yang memiliki kepribadian religius, berakhlaqul karimah, berpikir kritis, inovatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta di landasi dengan iman dan takwa (IMTAK) yang tinggi. Kurikulum berkarakter bangsa yang pernah digagas dan diberlakukan di semua institusi pendidikan di negeri ini, merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah kita dalam menyiapkan karakter bangsa yang kokoh dan unggul di masa yang akan datang, termasuk dalam hal ini mengantisipasi generasi penerus bangsa agar terhindar dari tindakantindakan yang bersifat negatif terlebih dalam menghadapi tantangan dan kondisi masyarakat yang semakin mengkhawatirkan, maka disinilah perlu adanya pendidikan karakter dalam pembentukan insan yang berkepribadian baik dan religi.
            Kecerdasan intelektual tanpa diikuti dengan karakter dan akhlak yang mulia maka tidak akan memiliki nilai lebih. Maka dari itu, karakter dan akhlak adalah sesuatu yang sangat mendasar dan saling melengkapi. Masyarakat yang tidak berkarakter atau berakhlak mulia maka disebut sebagai manusia tidak beradab dan tidak memiliki harga diri atau nilai sama sekali. Karakter atau akhlak mulia harus dibangun, sedangkan membangun akhlak mulia membutuhkan sarana yang salah satunya adalah jalur pendidikan. Pendidikan bisa dilakukan dimana saja, tidak hanya di sekolah atau madrasah, akan tetapi juga di rumah (keluarga), maupun di masyarakat. Untuk menyegarkan kembali konsep pendidikan yang akan mampu membentuk karakter dan membangun akhlak mulia para peserta didik.

HAKEKAT PENDIDIKAN KARAKTER DALAM ISLAM
            Sebelum membahas mengenai pendidikan karakter ada baiknya mengetahui apa itu pendidikan dan apa itu karakter. Setelah mengetahui makna keduanya, maka kita akan mampu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak, istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan (Ramayulis, 1994:1).
            Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan dan pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan
yang lebih baik dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti, segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan (Ramayulis, 1994:1).
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembalajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara ( UU. Sisdiknas, Bab I pasal 1 ayat 1).
            Pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang mengarah kepada pembentukan akhlak atau kepribadian. Pengertian pendidikan seperti disebutkan di atas mengacu kepada suatu sistem yaitu “sistem pendidikan Islam” (Ramayulis, 1994: 4).
Pendidikan dalam pengertian secara umum dapat diartikan sebagai proses transisi pengetahuan dari satu orang kepada orang lainnya atau dari satu generasi ke generasi lainnya. Semua itu dapat berlangsung seumur hidup, selama manusia masih berada bi muka bumi ini.
Adapun definisi karakter, secara etimologis kata “karakter” (Inggris, character) tersebut berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charasein yang berarti “to engrave”. Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Marzuki, t.th: 4). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2012), kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain dan watak. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (2008:682) sebagaimana dikutip Marzuki (t.th: 4), karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbol khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan demikian karakter juga dapat diartikan sebagai kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas dalam diri seseorang. Karakter bisa terbentuk melalui lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada masa kecil ataupun bawaan dari lahir. Ada yang berpendapat baik dan buruknya karakter manusia memanglah bawaan dari lahir. Jika jiwa bawaannya baik, maka manusia itu akan berkarakter baik. Tetapi pendapat itu bisa saja salah. Jika pendapat itu benar, maka pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah karakter orang.
            Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan berkarakter yang dirumuskan oleh Kemendiknas (2010) sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Kosim (t. th:89-90) meliputi delapan belas nilai sebagaimana berikut:

  1. Religius, yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan
    ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
    agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
  2. Jujur, yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
    sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,
    dan pekerjaan.
  3. Toleransi, yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,
    suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari
    dirinya.
  4. Disiplin, yakni tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh
    pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja keras, yakni tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh
    pada berbegai ketentuan dan peraturan.
  6. Kreatif, yakni berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara
    atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
    orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  8. Demokratis, yakni cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai
    sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa ingin tahu, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
    mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
    dipelajarinya, dilihat, dan di dengar.
  10. Semangat kebangsaan, yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan
    yang menempatkan kepentingan bamgsa lain negara di atas kepentingan
    diri dan kelompoknya.
  11. Cinta tanah air, yakni cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang
    menempatkan kepentingan bangsa dan bernegara di atas kepentingan
    diri dan kelompoknya.
  12. Menghargai prestasi, yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya
    untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
    mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/ komunikatif, yakni sikap dan tindakan yang mendorong
    dirinya untuk menghasilakn sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
    mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
  14. Cinta damai, yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
    menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
    serta menghormati keberhasilan orang lain.
  15. Gemar membaca, yakni kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca
    berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya
    mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
    mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang
    sudah terjadi.
  17. Peduli sosial, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
    kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan
    upaya-upaya untk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  18. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk
    melaksanakan tugas dan kewajibannya , yang seharusnya dia lakukan,
    terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya),
    negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
    Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa karakter identik dengan akhlak,
    moral, dan etika. Maka dalam persfektif Islam, karakter atau akhlak mulia
    merupakan suatu hasil dari proses penerapan syariat (ibadah dan muamalah)
    yang dilandasi oleh kondisi akidah yang kokoh dan bersandar pada alQur’an dan Hadits.

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Kata Islam dalam “pendidikan Islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, atau pendidikan Islami, atau pendidikan yang berdasarkan asas-asas Islam. Pembahasan tentang apa pendidikan itu menurut Islam tentunya didasarkan atas keterangan al-Qur’an dan Hadits, serta didasarkan pula pada pendapat para pakar pendidikan Islam (Tafsir, 1992: 24). Al-Attas (1979:1) menghendaki tujuan pendidikan adalah lahirnya manusia yang baik. Ini terlalu umum. Marimba (1964:39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim. Ini pun masih umum, Mursyi (1977:18) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna, ini pun terlalu umum. Sulit dioperasionalkan maksudnya, dan sulit dioperasikan dalam tindakan perencanaan serta pelaksanaan pendidikan secara nyata (Tafsir, 1992: 46).
            Membicarakan tujuan pendidikan umum itu penting. Tujuan umum itu tetap menjadi arah dari pendidikan Islam. Untuk keperluan pelaksanaan pendidikan, tujuan itu harus dirinci menjadi tujuan umum yang sudah pernah dilakukan oleh para ahli pendidikan Islam, Al-Syaibani misalnya, menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi:

  1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang
    berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuankemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan akhirat.
  2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku
    masyarakat, tingkah laku individu dalam bermasyarakat, perubahan
    kehidupan masyarakat, dan memperkaya pengalaman masyarakat.
  3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran
    sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan
    masyrakat (Tafsir, 1992:46).
    Al-Abrasyi dalam Tafsir (1992: 46) merinci tujuan akhir pendidikan
    Islam menjadi empat hal, yakni: pertama, pembinaan akhlak; kedua,
    menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat; ketiga, penguasaan ilmu; dan keempat keterampilan bekerja dalam masyarakat.
    Al-Aynayni (1980:153-217) membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah
    kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada
    Allah SWT. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya
    tetap, berlaku di segala tempat, waktu dan keadaan. Tujuan khusus
    pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan
    mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi, dan lain-lain yang ada di tempat itu. Selanjutnya ia membagi aspek-aspek pembinaan dalam
    pendidikan Islam. Aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan Islam
    menurutnya adalah: (1) aspek jasmani; (2) aspek akal ; (3) aspek akidah; (4) aspek akhlak; (5) aspek kejiwaan; (6) aspek keindahan; dan (7) aspek
    kebudayaan. Jasmani yang sehat dan kuat memiliki ciri sebagai berikut: sehat, kuat, dan berketerampilan. Adapun kecerdasan dan kepandaian cirinya adalah:
    pertama, mampu menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat; kedua,
    mampu menyelesaikan masalah secara ilmiah dan filosofis; ketiga, memiliki dan mengembangkan sains; dan keempat, memiliki dan mengembangkan filsafat. Sementara hati yang takwa kepada Allah memiliki ciri sebagai berikut: pertama, melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh sukarela; dan kedua, hati yang memiliki kemampuan untuk selalu ingat dan berhubungan dengan Allah SWT dalam setiap waktu dan kesempatan.
                Dari penjelasan tersebut kita dapat menegaskan bahwa: pertama,
    tujuan umum pendidikan Islam ialah membentuk pribadi muslim yang
    sempurna atau manusia yang takwa, atau manusia beriman, atau manusia yang senantiasa beribadah kepada Allah ; kedua, muslim yang sempurna itu ialah muslim yang memiliki sembilan karakter dengan rincian tiga ciri muslim sempurna, empat ciri pribadi yang cerdas dan pandai serta dua ciri pribadi yang takwa. (Tafsir, 1992: 40-51).
    Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan Islam
    mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan
    hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada Khalik-nya dengan dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama. Oleh karena itu pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayanipertumbuhan manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, maupun aspek ilmiah (secara perorangan maupun secara berkelompok). Dan pendidikan ini mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.

PENUTUP
Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan
karakter. Arti dari pendidikan karakter menurut Islam adalah usaha sadar
yang dilakukan pendidik kepada peserta didik untuk membentuk
kepribadian peserta didik yang mengajarkan dan membentuk moral, etika,
dan rasa berbudaya yang baik serta berakhlak mulia yang menumbuhkan
kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik dan buruk
serta mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan cara
melakukan pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan yang
berpedoman pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Pembentuk kepribadian dalam pendidikan Islam meliputi sikap, sifat, reaksi, perbuatan, dan perilaku. Pembentukan ini secara relatif menetap pada diri seseorang yang disertai beberapa pendekatan, yakni pembahasan mengenai tipe kepribadian, tipe kematangan kesadaran beragama , dan tipe orang-orang beriman. Melihat kondisi dunia pendidikan di indonesia sekarang, pendiidkan yang dihasilkan belum mampu melahirkan pribadipribadi muslim yang mandiri dan dan berkepribadian Islam. Akibatnya banyak pribadi-pribadi yang berjiwa lemah seperti jiwa koruptor, kriminal, dan tidak amanah. Untuk itu membentuk kepribadian dalam pendidikan Islam harus direalisasikan sesuai al-Qur;an dan al-Sunnah Nabi sebagai identitsa kemuslimannya, dan mampu mengejar ketinggalan dalam bidang pembangunan sekaligus mampu mengentas kebodohan dan kemiskinan. Konsep kepribadian dalam pendiidkan Islam identik dengan ajaran Islam itu sendiri, keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. 2002. Moralitas Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas, Semarang: Gama Media.
Anggota IKAPI. 2010. Undang-Undang SISDIKNAS, Bandung: Fokusmedia.
Langgulung, Hasan. 2004. Manusia dan Pendidikan Suatu Analisis Psikologis Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Husna Baru.
Prasetya. 1997. Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
Ramayulis. 1994. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Shihab, M. Quraisy. 2009. Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.
Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, Bandung: Rosdakarya.
Uhbiyati, Nur. 2005. Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Http://www.dakwatuna.com/2007/12/327/kepribadian-muslim



Leave a Comment

*

*