Home
PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL DI ERA MILENIAL
islam milenial

PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL DI ERA MILENIAL

Kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat banyak keberagaman budaya. Keberagaman di masyarakat merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti” (QS. Al-Hujurat : 13).

Secara sosiologis, manusia merupakan makhluk paling sempurna, diantara ciptaan-Nya, ia diberikan berbagai kelebihan bahkan dengan logikanya menjadi manusia yang berpengetahuan dan berperadaban (Fauzi, 2016). Pada konteks tersebut, manusia diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sejati, berupa keadilan, demokrasi dan perdamaian dalam kehidupan sosial di masyarakat (Fauzi, 2018a). Demikian, segala bentuk keanekaragaman tersebut, dapat melahirkan kehidupan sosial yang harmonis sebagaimana hakikat dari kemanusian secara universal. Pada konteks tersebut, untuk mengaktualisasikan pesan moral dimaksud, maka salah satu alternatif yaitu melalui pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan yang secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik-praktik diskriminasi dalam proses pendidikan (Baharun & Awwaliyah, 2017).

Pada prinsipnya, potret pendidikan multikultural adalah pendidikan yang dapat menghargai perbedaan. Karena itu, dengan perbedaan tersebut tidak menjadi sumber terjadinya konflik dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi dalam dunia pendidikan yang merupakan wadah bagi peserta didik untuk menimba ilmu dan juga sebagai tempat berkumpulnya berbagai macam kebudayaan yang dibawa oleh masing-masing peserta didik. Pesantren pun juga memberikan wadah yang pas untuk pedidikan dengan saling melengkapi dengan perbedaan dan keberagamn.

Pendidikan multikultural sangat berpengaruh terhadap bagaimana terjalinnya suatu proses yang harmonis dalam proses pembelajaran. Dengan begitu guru mampu menciptakan hubungan yang baik antarsesama serta menjunjung akhlak yang mulia dan tidak mengabaikan hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural selaras dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu

المتعلمين بالعلومات وتعليمهم من المواد الدراسية بل الغرض ان

نهذب اخلاقهم ونربي ارواحهم ونبث فيهم الفضيلة ونعودهم الاداب

السامية ونعدهم لحياة طاهرة.

Tujuan pendidikan Islam bukan sebatas mengisi pikiran siswa dengan ilmu pengetahuan dan materi pelajaran akan tetapi membersihkan jiwanya yang harus diisi dengan akhlak dan nilai-nilai yang baik dan dikondisikan supaya biasa menjalani hidup dengan baik.

Daftar Pustaka :

Athiyyah al-Abrasyi. 1969. at-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Falsafatuha. Beirut : Dar Al-Fikr.

Baharun H., dan Awwaliyah, R. (2018). Pendidikan Inklusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus dalam Perspektif Epistemologi Islam. MODELING : Jurnal Program Studi PGMI, 5(1), 57-71.

Fauzi, A. (2016). Transformation of Values in Developing Leadership Prophetic Islamic Education. In 2nd ICET Theme : Improving The Quality of Education and Training Through Strengthening Networking (pp. 1196-1204). Faculty of Education, State University of Malang.

oleh : Hervira Aghnia Zahra Ramadhani

3 Comments

Tinggalkan Balasan ke Ratna Batalkan balasan

*

*