Home
Nasihat Kyai untuk para Wali Santri

Nasihat Kyai untuk para Wali Santri

Oleh: Ustadzah Shofi

Abstrak

Pesantren bukan hal lain lagi sebagai alternatif pendidikan di Indonesia bagi orang tua yang bingung menyekolahkan anak-anaknya. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak kuat mental atau tidak tega. Akhirnya, sebagian dari wali santri gagal, putus dijalan karena hatinya belum kokoh. Dari artikel ini ingin memotivasi para orang tua atau calon wali santri untuk mempersiapkan hal-hal berikut saat menyekolahkan putra-putri mereka di pesantren, antara lain 1.Tega, Orang tua harus tega meninggalakan anaknya di pesantren, 2. Ikhlas, Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses Pendidikan, 3. Tawakal, Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoa kepada Allah, 4. Ikhtiar, Untuk poin ini yang utama adalah dana, dan terakhir adalah percaya, Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina.

Kata Kunci: Pesantren, Pendidikan, anak.

Pesantren bukan hal lain lagi sebagai alternatif pendidikan di Indonesia bagi orang tua yang bingung menyekolahkan anak-anaknya, dan memang seharusnya begitu karena pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh baik di NKRI.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak kuat mental atau tidak tega. Akhirnya, sebagian dari wali santri gagal, putus dijalan karena hatinya belum kokoh. Untuk itu, melalui halaman ini kami ingin memotivasi para orang tua atau calon wali santri untuk mempersiapkan hal-hal berikut saat menyekolahkan putra-putri mereka di pesantren.

1.Tega

Orang tua harus tega meninggalakan anaknya di pesantren. Sosok Ibu yang biasanya sulit melepas atau tidak tega harus meyakinkan pada diri bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun,

بَّنَاۤ اِنِّىۡۤ اَسۡكَنۡتُ مِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِىۡ زَرۡعٍ عِنۡدَ بَيۡتِكَ الۡمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيۡمُوۡا الصَّلٰوةَ فَاجۡعَلۡ اَ فۡـٮِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهۡوِىۡۤ اِلَيۡهِمۡ وَارۡزُقۡهُمۡ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُوۡنَ

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim(14) : 37

2. Ikhlas

Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok Pesantren bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Pesantren bukan untuk memanjakan, atau penyedia kebutuhan. Pesantren tempat menimba ilmu dan lading amal ibadah, sedang ruh dari amal sendiri itu adalah ikhlas.

الإِخْلَاصُ رُوْحُ الْعَمَلِ

3. Tawakkal

Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoa kepada Allah, karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla yang mendengar dan mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan, begitu pula nasihat kepada anak-anak untuk rajin berdoa, niscaya doa para mujahid / penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pesantren merupakan lembaga amal.

Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham.

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

“Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan Ilmu, kecuali dengan 6 perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas; Kecerdasan, Ketamakan (terhadap ilmu), Kesungguhan, Uang (Biaya), Dekat dengan Guru, Waktu yang lama”

5. Percaya

Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pesantren adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi.

Ketahuilah bahwa santri-santri pesantren akan kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

زُرْ غِبًّا تَزْدَدُ حُبًّا

Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang.

Daftar Pustaka

(Abu Dawud, Ibnu Hibban) Sumber : https://www.openulis.com/nasihat-pesantren/

One Comment

Tinggalkan Balasan ke Ust Janu Batalkan balasan

*

*