Home
Muhammad Al-Fatih, Dan Pendidikan Islam Seharusnya

Muhammad Al-Fatih, Dan Pendidikan Islam Seharusnya

Kalau kita berbicara tentang sosok pahlawan dalam Islam, nama Muhammad Al Fatih lazim kita masukan di dalam pembahasan. Selain pembahasan tentang Rasulullah, juga para sahabat tentunya. Muhammad Al Fatih adalah pemimpin, yang bahkan kehadiranya sudah disebutkan, juga diberikan gelar sebagai sebaik-baik pemimpin oleh Rasulullah jauh-jauh hari sekitar 400 tahun sebelum kelahiran Al Fatih itu sendiri,

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad].

Yang menarik dari Kisah Muhammad Al Fatih adalah, beliau menaklukan Konstantinopel ketika berusia 21 Tahun (dalam riwayat lain disebutkan 23 Tahun), bayangkan apa yang dilakukan pemuda sekarang dalam usia yang sama? Jika Muhammad Al Fatih berbangga karena sudah berhasil menaklukan Konstantinopel, pemuda hari ini malah berduka karena boro-boro menaklukan sebuah kerajaan, menaklukan hati calon mertua saja belum bisa, iya kan?

Sebenarnya, pertanyaan paling mendasar adalah, Apa Beda Muhammad Al Fatih dan Pemuda Islam jaman now?

Mari tarik akar yang lebih jauh lagi, yaitu masa kecil Muhammad Al Fatih.

Muhammad Al Fatih ini adalah anak dari seorang raja yang pernah mencoba menaklukan Konstantinopel sebelumnya, namun gagal. Maka setelah kegagalannya, Ayah dari Al Fatih bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa kelak anaknya yang akan menaklukan Konstantinopel. Sumpah yang akhirnya dibuktikan dengan bagaimana sang Ayah mengasuh Al Fatih kecil.

Al Fatih dibesarkan dengan pendampingan ketat dua Gurunya, yang pertama adalah Syekh Ahmad ibn Ismail al Qurani, dan yang kedua adalah Syaikh Aaq Syamsudin.

Sesuai namanya, Syekh al Qurani adalah orang yang sedari Al Fatih kecil sudah diajarkan Alquran kepadanya. Maka wajar, sebelum usia Baligh Al Fatih sudah hafal Al Quran 30 Juz. Bahkan kelak saat dewasa, buah dari belajar Alquran itu menjadikan Al Fatih ahli dalam bidang matematika, falaq, fiqih, hingga stategi perang. Keren bukan?

Inilah yang pertama, mengajarkan pendidikan Alquran kepada anak adalah pondasi pertama yang harus ditanamkan. Tentu metodenya disesuaikan dengan usia juga kemampuan dari si Anak.

Yang kedua, adalah Syaikh Aaq Syamsudin. Beliau adalah Guru yang mengajarkan Siroh Rasulullah, Sahabat, juga Kisah Anbiya kepada Al Fatih kecil. Kenapa Kisah?

Saat masih duduk di bangku kuliah, adik angkatan saya pernah berkata gini, “Mas ridho tau nggak kalau ternyata korupsi itu dimulai dari polah asuh anak yang salah?”,
Saya yang sedang melamun tentu tidak siap dengan pertanyaan itu, “Enggak, emang bisa gitu yah?”
dari situlah lalu dia menjelaskan.

Simpelnya seperti ini, dahulu ada sebuah penelitian di Britania Raya (Inggris sekarang, pent-) yang menjadikan anak-anak sebagai objek penelitian. Simpel, 40 orang anak dipisah menjadi dua kelas, 20 anak, dan 20 anak. Kelas pertama diceritakan bahwa jaman dahulu ada seorang Pangeran yang berusaha menyelamatkan seorang Putri yang ditawan oleh seekor naga, pengeran itu akhirnya melawan sang naga. Saat pertarungan, sang pangeran dibuat berdarah-darah, bahkan menyebabkan satu tanganya terpotong, lalu dalam kondisi tersebut sang pangeran memilih menyerah dan membiarkan sang putri ditawan oleh naga.

Kelas kedua, diceritakan kisah yang sama dengan Akhir cerita yang berbeda. Sang Pangeran walaupun dalam keadaan berdarah-darah, tangan yang terpotong satu, tetap berjuang melawan Naga sampai akhirnya Naga dikalahkan dan sang putri berhasil diselamatkan.

Menariknya, 20 tahun kemudian ketika anak-anak tersebut sudah dewasa, sebagian besar anak di kelas pertama tumbuh menjadi pria dewasa yang penakut, pemalas, juga tidak suka tantangan. Sebaliknya, anak di kelas kedua tumbuh menjadi pria dewasa yang pemberani, tidak mudah menyerah, sangat menyenangi tantangan. Menarik bukan?

Inilah pentingnya kisah,
kalau kata Ustadz Budi Ashari, yang paling penting bagi calon orang tua adalah memperbanyak refrensi kisah-kisah mulai Nabi, Rasulullah dan sahabatnya, serta kisah ulama hebat islam lainnya. Kenapa? karena jangan sampai kelak kita salah berkisah kepada anak dan menyebabkan anak tumbuh menjadi seseorang yang tidak kita inginkan. Inilah pentingnya pendidikan Anak bagi pembentukan karakter Umat Muslim. Beruntung, hari ini kita punya pesantren juga lembaga pendidikan lainnya yang tersebar di seantero negeri.

Lalu apa hubunganya dengan Korupsi?
coba tebak apa kisah paling populer di Indonesia? Kancil Mencuri Timun, tepat sekali. Maka jangan salahkan anak kalau dewasa nanti kelak menjadi pencuri yang cerdik, persis seperti kancil. Ya tentu ini bisa kita perdebatkan, tapi tidak ada salahnya mencegah bukan?

Jadi inilah Muhammad Al Fatih,
sejak kecil sudah diceritakan kisah heroik perjuangan Rasulullah, maka wajar ketika besar Muhammad Al Fatih menjadi panglima yang tidak mudah menyerah, persis seperti Rasulullah yang diceritakan kepadanya saat kecil. Ingat, yang dihadapi Al Fatih adalah gerbang Konstantinopel yang tidak pernah runtuh selama 300 Tahun, kerajaan yang memiliki pasukan terbaik yang tidak terkalahkan. Apakah Al Fatih menyerah?
Bahkan kelak Al Fatih dengan penuh jiwa kesatria, semangat pantang menyerah, memimpin pasukannya membawa Perahu untuk melintasi bukit, benar, perahu melintasi bukit.

Itulah Al Fatih yang hebat, yang ia tahu adalah, selama ia bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan berikan baginya kemudahan, juga jalan keluar bagi setiap permasalahannya.

Semoga, kelak kita akan melahirkan Al Fatih- Al Fatih jaman now demi mewujudkan Bangkitnya Peradaban Islam kembali, menuju puncak kejayaan Islam. Semoga.

24 Comments

Leave a Comment

*

*