Home
Merdeka??? Sudahkah????

Merdeka??? Sudahkah????

Kemerdekaan (al-hurriyyah) merupakan suatu nilai yang amat tinggi dan merupakan anugerah dari Allah Swt yang amat berharga bagi manusia. Dalam filsafat Arab, terdapat ungkapan, لا شىء أثمن من الحريّةArtinya,” tak ada sesuatu yang lebih bernilai ketimbang kemerdekaan.”

Allah SWT berkenan memberikan kemerdekaan kepada manusia, tidak kepada makhluk lain, seperti langit atau bumi. Firman Allah SWT yang artinya, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.'” (QS Fushshilat [41]: 11).

Dalam Islam, kemerdekaan yang sesuai dalam pancasila ayat pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengandung arti bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada siapa pun selain Allah Swt. Sebab, ketundukan ini mengandung makna perendahan.

Penghambaan manusia kepada sesama manusia, apalagi kepada makhluk lain yang lebih rendah, dapat merendahkan harga diri manusia, bahkan melecehkan harkat kemanusiaan.

Dalam pespektif ini, hanya orang yang bertauhid, yang dapat disebut sebagai orang yang bebas dan merdeka. Ia mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang akan menjauhkan dirinya dari kebenaran dan dari kepatuhan kepada Allah SWT.

Inilah kemerdekaan sejati yang dibawa dan diemban oleh para Nabi dan Rasul Allah sepanjang sejarah. Kemerdekaan ini pula yang didambakan oleh Siti Hanah, istri Imran, ketika ia bernadzar tentang anak yang dikandungnya. Katanya, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi anak yang bebas dan merdeka.” (QS Ali Imran [3]: 35).

(Terjemahan lain berbunyi: “[Ingatlah], ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat [di Baitul Maqdis]. Karena itu, terimalah [nazar] itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'”)

Kata muharrar (orang merdeka) dalam ayat ini, menurut banyak pakar tafsir, bermakna muwahhid, yaitu ‘orang yang tulus dan sepenuh hati menuhankan Allah Swt dan menyembah hanya kepada-Nya.’

Menurut tafsir al-Ishfahani, merdeka di sini juga mengandung makna moral. Dalam arti, seseorang mampu membebaskan diri dari sifat-sifat tercela seperti korup, sewenang-wenang, dan memperkaya diri.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari artikel singkat ini, kita sebagai manusia yang diberi Allah Swt iman dan akal yang sehat. Hendaklah memerdekakan minimal diri kita sendiri dan umumnya memerdekakan keluarga serta orang sekeliling kita dengan sebenar – benarnya merdeka. Yaitu melepaskan diri kita dari ketundukan selain kepada Allah Swt.

Betapa banyak manusia yang memiliki kedudukan namun sejatinya dia masih menjadi budak, budak kesombongan dirinya sendiri betapa banyak manusia yang memiliki harta yang melimpah namun sejatinya dia masih menjadi budak, budak hartanya sendiri seluruh waktunya habis untuk “menyembah” harta, dan dengan sekejap harta itu hilang darinya karena kecintaannya kepada duniawi.

Mari Kita lepaskan diri kita dari perbudakan. Angkat harkat dan martabat kita dengan menjadi manusia yang merdeka. Dengan hanya bergantung kepada Allah lah dan hanya memohon perlindungan kepada-Nya kita akan menjadi manusia yang merdeka dan bermartabat . Aamiin Allahumma aamiin. Wallahu ‘alamu bisshowab.

3 Comments

Leave a Comment

*

*