Home
Menjungkir Balik Logika Syukur

Menjungkir Balik Logika Syukur

Mungkin kita pernah mendengar lisan-lisan polos yang berkata,
Aku terlalu banyak dosa dan maksiat. Tidak pantas untuk meminta kepada Allah Yang Mahasuci.

Benarkan logika tersebut? Jika dulu Anda menganut pemahaman itu, kini harap Anda rekontruksi ulang pemahaman tersebut. Analisis seperti itu sungguh terlalu dangkal. Ingin saya ingatkan pada Anda mengenai makhluk paling sengsara di akhirat kelak, bahkan sejak pertama kali turun ke dunia ia telah dijatuhi hukuman sebagai calon penghuni neraka. Dialah Iblis lanatullah, Imam Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ibnu Uyainah berkata. Janganlah kalian berhenti berdoa tatkala merasa berdosa sebab Allah telah mengabulkan doa hamba-Nya yang paling jahat sekali pun, yaitu Iblis tatkala berdoa;
قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Artinya:
“(Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-A’raf :14).

Kalaupun iblis saja dikabulkan, apalagi kita yang masih punya kesempatan untuk menghindari ngerinya siksa neraka.

Sejak dini kita telah diperkenalkan dengan ayat yang mengajarkan agar kita senantiasa mensyukuri segala nikmat yang dikaruniakan Allah pada kita yang terdapat dalam surah Ibrahim ayat 7, yaitu
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (QS. Ibrahim: 7)

Mari sejenak men-tadabburi ayat tersebut. Penggalan pertama ayat itu merupakan tawaran indah dari Tuhan, bahwa jika kita bersedia mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, maka Allah mengungkap janji untuk menambah nikmatnya pada kita. Saya ulang, jika kita bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat-Nya kepada kita. Jika saya tanya kepada Anda, apa yang akan kita lakukan supaya Allah berkenan menambah nikmat-Nya kepada kita? Ya, jawabannya adalah dengan cara bersyukur.

Dengan syukur, Allah akan melimpahkan tambahan karunia kepada kita. Jika atas tambahan karunia itu kita terus syukur, syukur, dan tak henti bersyukur, maka sesuai surat Ibrahim ayat 7 seperti yang saya kutip di atas, Allah akan memberi tambah, tambah, dan tambah atas nikmat-Nya kepada kita. Pasti! Karena Allah Maha menepati janji.

Selama ini kebiasaan kita adalah bersyukur setelah nikmat itu hadir. Kita dengan mudah mengucap hamdalah setelah rezeki datang menghampiri. Padahal syukur adalah metode mengundang nikmat. Jika selama ini urutan yang kita anut adalah:
Berdoa kepada Tuhan → Doa kita dikabulkan → Baru bersyukur
Mulai sekarang, mari logikanya kita balik:
Bersyukur terlebih dahulu → Berdoa kepada Tuhan → Doa kita pun dikabulkan

Mungkin banyak referensi dan artikel yang menerangkan secara gamblang tentang anjuran syukur. Namun, coba dengan logika syukur diatas dapat membayangkan harapan-harapan Anda dengan diawali penuh rasa syukur, seakan-akan Anda sudah menerimanya. Dengan demikian, Anda akan menerimanya segera.

Dalam ceramahnya salah satu ulama karismatik, yaitu KH Bahauddin Nursalim atau disebut Gus Baha dikutip dari kanal YouTube (Ngaji ben aji official) pada Selasa, 30 November 2021 memaparkan untuk selalu berfikir dengan logika yang sahih. Gus Baha mengajarkan agar selalu berfikir dengan logika yang sahih, supaya timbul rasa syukur dalam melakukan kebaikan atau ibadah, murni hanya berdasar iman. Kemudian ketika kita berfikir dengan logika yang sahih kata Gus Baha, maka akan timbul rasa syukur, cinta, mengagungkan, dan rindu kepada keridhoan Allah SWT. Hal ini dikatakan Gus Baha bukan hanya berfikir semata, dan bukan lagi berorientasi Surga-Neraka ataupun transaksional duniawi.
Dengan demikian, berfikir dengan logika bukan sekedar ingin mendapatkan hadiah ketika ia dapat memecahkan satu masalah. Kemudian Gus Baha menjelaskan caranya, yaitu kita harus kembali pada ajaran tasawuf dengan menjiwai secara penuh kalimah munajat; “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi”.

Namun kata Gus Baha jika belum bisa dan belum mampu, harus senantiasa dilatih, dan dilatih lagi. Agar lebih mudah memahami cara-cara itu, seperti biasa Gus Baha memberi analogi (Qiyas).
“1+1 berapa? Kamu menjawab 2 itu, nunggu saya beri hadiah satu juta, atau tetap menjawab 2 demi menjaga status kewarasan (akal sehat) anda? Tanya Gus Baha. “Tentunya tetap menjawab Dua, kan?” lanjutnya.
“Kenapa demikian, karena 1+1 = 2 itu adalah hakikat. Dan hakikat itu,’ latahtaju ila ujroh, yang namanya mempertahankan hakikat itu, tidak lagi butuh upah. Jelas ya..?” Tutur beliau.
Ya, pada intinya syukur adalah anak tangga mutlak untuk mempercepat kesuksesan. Syukur akan mengundang keberlimpahan dalam hidup. Berlimpah bahagia, berlimpah ilmu, berlimpah rezeki, berlimpah barakah.
Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Siapa menyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya. (Al-Hikam, Ibn Athaillah)

#AnangMan

4 Comments

Leave a Comment

*

*