Home
Mendidik Anak dengan Keteladanan dan Cinta

Mendidik Anak dengan Keteladanan dan Cinta

Orang tua mana yang tidak ingin memiliki anak yang shalih atau shalihah? Banyak orang tua yang berlomba-lomba mengikuti seminar parenting di mana-mana, menyekolahkan anak di sekolah terbaik, ataupun memberikan beragam fasilitas untuk menunjang pendidikan anak. Akan tetapi, yang paling sering dilupakan oleh orang tua adalah mendidik anak dengan keteladanan dan cinta.

Sudah bukan hal yang baru lagi jika mendengar atau membaca berita banyak anak-anak yang memiliki sikap jauh dari kata sopan dan beradab.

Tidak perlu jauh-jauh, kita sendiri pasti pernah mengalaminya, seperti anak tidak patuh pada nasihat orang tua, suka menghardik dengan kasar, dan sebagainya.

Salah satu penyebabnya, karena tidak ada keteladanan orang tua pada anak sejak mereka masih berusia dini. Kesibukan bekerja sering menjadi alasan mengapa orang tua jarang ikut andil dalam proses mengasuh dan mendidik anak mereka.

 

Keteladanan Orang Tua Penting dalam Mendidik Anak

Sangat penting bagi orang tua untuk mendidik anak dengan keteladanan dan cinta. Sejak awal, orang tua diharuskan telah memiliki visi dan misi dalam mendidik anak. Karena, jika sampai salah didik, bisa saja timbul suatu permasalahan di kemudian hari. Yang harus diingat sebagai orang tua ialah, anak yang dilahirkan ke dunia telah mempunyai predikat sebagai khoiru ummah atau umat terbaik yang mengajak pada kebaikan.

Lalu, yang perlu diingat lagi adalah apa yang telah dijelaskan pada QS. An-Nisa (9), “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.”

Berlandaskan itu semua, sudah seharusnya Anda mencurahkan seluruh daya serta upaya dalam mendidik anak agar memiliki iman yang kuat, ilmu, amal dan fisik.

Peran orang tua dalam mencetak generasi yang tangguh dapat dibarengi dengan peran masyarakat sekitar. Berikut masing-masing peran dan keluarga dalam mendidik anak.

 

Keluarga

Anak di usia tiga tahun ( Umumnya bagi semua anak )  sebaiknya melihat ayah dan ibunya yang sedang melaksanakan shalat dan mendengarkan keduanya sedang membaca Al-Qur’an.

Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dzikir harian yang dibaca oleh kedua ayah ibunya dan saudara-saudaranya secara berulang-ulang, akan memberikan konsumsi rohani dan menghidupkan hati sang anak sebagaimana hujan bisa menghidupkan tanah yang kering kerontang, karena mendengar dan menyaksikan kedua orang tua yang sedang berdzikir, memberikan pengaruh kepada tindakan dan ucapan anak.

Salah satu contohnya adalah kisah seorang anak berikut ini:

Suatu ketika, seorang ibu baru selesai berwudhu, mendadak dilihatnya anaknya yang berusia tiga tahun membasuh wajah dan kedua tangannya mengikuti apa yang barusan dilakukan ibunya.

Selanjutnya, ia mengangkat jari telunjuknya lantas membaca doa, “Laa ilaaha illallah”. Ini menunjukan bahwa anak mengetahui dari tindakan kedua orang tuanya bahwa ada dzikir-dzikir tertentu yang diucapkan sesudah wudhu.

Ada satu cerita lain.

Suatu hari, sang ibu melaksanakan shalat sunnah wudhu. Kemudian ia berdiri untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah. Anak perempuannya biasa melihat ibunya sesudah shalat duduk di tempat shalatnya, sehingga selesai membaca dzikir-dzikir bakda shalat. Tetapi, saat itu sang anak melihat ibunya sesudah melaksanakan shalat langsung berdiri. Anak itu pun berkata, “Ibu, mengapa ibu berdiri meninggalkan tempat shalat sebelum membaca, “Astaghfirullah?” (dzikir bakda sholat).

Kejadian ini menunjukan betapa telitinya perhatian anak kepada kedua orang tua mereka.

Di lingkungan keluarga, orang tua perlu mendidik anak dengan keteladanan dan cinta dalam segala hal, seperti:

Anak harus diberi pelajaran tentang kepatuhan kepada Allah, baik dalam urusan beribadah, pergaulan di lingkungan sekitar atau sekolah, dan berbagai permasalahan lainnya.

Menanamkan keshalihan dalam diri anak dalam bentuk bersegera melaksanakan kewajiban dan syariat-syariat Allah, memiliki akhlak yang baik, mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan sebagainya.

Memberi kelembutan dan kasih sayang. Anak yang mendapatkan rasa kasih sayang dan perlakukan lembut dari orang tuanya, akan melekat kuat di ingatannya dan membentuk jiwa yang produktif bagi anak.

Tanamkan rasa kepedulian terhadap sesama umat, seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam QS. Al-Hujurat (10), “Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara.”

 

Masyarakat

Lingkungan masyarakat yang kondusif dan baik juga merupakan salah satu upaya mendidik anak dengan keteladanan dan cinta. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang tua pun perlu mendidik anak agar mandiri.

Karena, keluarga adalah bagian dari masyarakat. Pendidikan anak yang telah diperoleh dalam keluarga akan semakin kokoh apabila lingkungan masyarakatnya juga mendukung.

Begitu juga sebaliknya, apabila lingkungan masyarakat sekitar buruk, runtuhlah pendidikan anak yang telah diajarkan oleh orang tua di lingkungan keluarga.

Maka dari itu, masyarakat juga menjadi hal sangat penting dalam proses mendidik anak menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh.

Begitulah pembahasan artikel tentang pola asuh mendidik anak dengan keteladanan dan cinta. Semoga tips parenting ini juga bisa menambah wawasan Anda serta memberikan manfaat untuk ke depannya.

 

Artikel By Ustadzah Siti Aminah

5 Comments

Leave a Comment

*

*