Home
Membentuk Generasi Muda yang Berakhlak Karimah

Membentuk Generasi Muda yang Berakhlak Karimah

Akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata Khuluq yang berarti tingkah laku, tabiat atau budi pekerti. Secara istilah, akhlak yaitu sifat yang dimiliki seseorang, telah melekat dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut. Akhlak sebagaimana diterangkan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, merupakan suatu perangai yang menetap kuat dalam jiwa. Karakter akhlak dalam jiwa itu timbul lantaran perbuatan-perbuatan tertentu yang dilakukan setiap orang.

Seperti yang kita ketahui pada zaman globalisasi ini teknologi sangatlah maju dan berkembang sehingga memudahkan kita saling bertukar informasi kepada siapa saja dan di mana saja, di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu hal tersebut membuat generasi muda penasaran terhadap budaya asing yang mereka temukan melalui media sosial, film, musik, foto dan lain sebagainya.

Dengan demikian globalisasi sudah pasti memiliki dampak positif dan dampak negatif, hal tersebut akan menghasilkan dampak sesuai siapa penggunanya. Banyak dampak negatif yang dapat kita lihat pada zaman globalisasi ini yaitu maraknya generasi muda yang kehilangan akhlaknya, dengan melanggar norma-norma yang telah ditetapkan, berkata kasar dan kejam, hilangnya rasa tanggung jawab dan sopan santun, meninggalkan kewajiban atas dasar agamanya, hidup bebas tanpa aturan, bahkan masih banyak lagi hal-hal buruk yang dilakukan generasi muda saat ini.

Salah satu upaya utama menjadi generasi muda penerus bangsa pada zaman globalisasi adalah dengan mengamalkan nilai pancasila, yaitu sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” mengandung makna sebuah sikap moral dan suatu nilai kesadaran serta tingkah laku manusia yang disandarkan pada hati nurani dalam hubungan dengan manusia, norma-norma serta kebudayaan. Peran orang tua sangat berpengaruh untuk mewujudkan generasi muda yang berakhlakul karimah dengan membentuk karakter sopan santun kepada anak sejak usia dini.

Dalam kitab akhlak Lil Banin juz 1 karya syekh Umar bin Ahmad Baradja, pada bab pertama disebutkan “Dengan apa seorang anak beradab?” wajib atas seorang anak berakhlak dengan akhlak yang baik dari kecilnya, agar kehidupannya dicintai ketika dewasa. Tuhannya akan rida padanya, keluarganya akan senantiasa mencintainya dan bahkan seluruh manusia. Wajib juga atas seorang anak yang beradab, menjauhi dari akhlak yang tercela agar tidak menjadi orang yang dibenci, Tuhannya tidak rida padanya, dan keluarganya tidak mencintainya, dan juga seluruh manusia (Baradja, 1950).

Membentuk karakter pada anak usia dini adalah strategi konkret yang harus dilaksanakan oleh seluruh orang tua karena upaya ini sangat penting bahkan seorang anak wajib beradab sejak dari kecilnya. Diibaratkan seperti pohon bunga yang indah akan tetapi pohon tersebut bengkok karena tidak diperhatikan sewaktu masih kecilnya dan apabila diluruskan, itu adalah hal yang sulit karena pohon tersebut sudah besar serta memiliki ranting-ranting yang tebal. Dan apabila dipaksakan pohon tersebut tidak akan menjadi lurus melainkan menjadi patah, beginilah sebuah gambaran jika seorang anak tidak beradab atau berakhlak dari kecilnya, tidak mungkin dia beradab pada waktu besarnya.

Dalam membentuk karakter generasi milenial yang berakhlakul karimah (mulia) harus adanya penanaman akhlak yang baik sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dan lebih utama adalah orang tua, karena orang tua merupakan pilar dan penanggung jawab utama seorang anak khususnya ibu. Ibu adalah Al Madrasah Uula (pendidikan pertama dan utama) seorang anak di dalam sebuah keluarga.

 

Amanatul Wahidah

31 Comments

Leave a Comment

*

*