Home
Memandang Alam Semesta dengan Kacamata Al-Qur’an

Memandang Alam Semesta dengan Kacamata Al-Qur’an

Memandang Alam Semesta dengan Kacamata Al-Qur’an

AL-QUR’AN diturunkan oleh Allah pada empat belas abad yang lalu. Al-Qur’an bukan buku ilmiah, tetapi kitab ini mencakup beberapa penjelasan ilmiah dalam tautan keagamaan-nya Penje lasan ini tidak pernah bertentangan dengan temuan-temuan ilmu modem. Sebaliknya, fakta-fakta tertentu yang baru ditemukan dengan teknologi abad ke-20 itu sebenarnya telah diungkapkan dalam Al-Qur’an pada empat belas abad yang silam. Ini menunjuk kan bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu bukti terpenting yang menegaskan keberadaan Allah.

Menurut data yang diperoleh pada abad ke-20, ternyat alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebelumnya tidak ada Teori ini dikenal sebagai teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) berpandangan bahwa alam semesta pada mulanya terjadi dengan peledakan.

Ada bukti yang sangat kuat yang mendukung teori Ledakan Dahsyat. Meluasnya alam semesta merupakan salah satunya dan bukti yang paling signifikan mengenai hal ini adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan benda-benda langit Untuk memahaminya dengan lebih baik, alam semesta bisa dibayangkan sebagai permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan, begitu jugalah angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas.

Dalam hal ini, mari kita merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang relevan. Satu ayat berikut ini menyatakan mengenai penciptaan alam semesta,
“Dan, langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (adz-Dzaariyaat: 47)
Pada ayat lain tentang langit, Allah berfirman,
“Dan, apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan, dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup Maka, mengapakah mereka tiada juga beriman?” (al-Anbiyaa”: 30)
Menurut kamus-kamus Arab, kata asal ratq yang diterjemahkan terpadu dalam ayat ini berarti “sesuatu yang Tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu dalam massa yang berat. Maksudnya, ini dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk entitas Pernyataan “pisahkan adalah kata kerja “fatq” dalam bahasa Arab dan ini berarti memecah objek dalam keadaan ratq. Sebagai misal, pemam buhan benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi diungkapkan dengan kata kerja ini. Kini, mari kita melihat kembali ayat yang menunjukkan bahwa langit dan bumi itu dalam keadaan ratq. lalu keduanya diartikan ‘dipisahkan’ dalam artian kata kerja fatq. Maksudnya, yang satu menerobos yang lain dan membuat jalan keluarnya. Sungguh, bila kita mengingat peristiwa pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat bahwa bintik yang disebut telur kosmik itu mengandung semua bahan alam semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit dan bumi” yang belum tercipta pun terkandung dalam bintik ini dalam keadaan ratq Sesudah itu, telur kosmik ini meledak, kemudian semua zat menjadi fatq.

Bila kita bandingkan ungkapan-ungkapan dalam ayat ini dengan bukti ilmiah, kita lihat bahwa ungkapan-ungkapan ini sangat bersesuaian. Yang cukup menarik, temuan-temuan ini belum ada sebelum abad ke-20.

8 Comments

Leave a Comment

*

*