Home
Kecerdasan Emosional dan Pendidikan Agama Islam

Kecerdasan Emosional dan Pendidikan Agama Islam

Proses belajar mengajar dijadikan media untuk mengembangkan kecerdasan emosional siswa, kecerdasan emosional sendiri dalam Pendidikan Agama Islam  terletak pada pendidikan akhlak. Siswa yang tidak mampu mengelola emosi sering melakukan tindakan-tindakan yang diluar batas kewajaran. Dalam Islam perilaku menyimpang ini disebut akhlak tercela sedangkan dalam terminologi psikologi disebut gangguan kepribadian. Menurut Abdul Mujib gangguan kepribadian, yang kemudian berbentuk kepribadian buruk, merupakan psikopatologi dalam peristilahan psikologi perspektif Islam. Dikatakan psikopatologi karena memiliki dua ciri utama: pertama, perilaku ini dapat mengganggu realisasi dan aktualisasi diri individu, disebabkan adanya simpton-simpton patologis seperti kecemasan, kegelisahan, keresahan, kebimbangan, kekhawatiran, keraguan, konflik dan kemalasan. Kedua, perilaku tersebut mengandung dosa yang dilarang Allah SWT. Perilaku ini mengotori jiwa manusia.

Implementasi akhlak dalam Islam tersimpul dalam karakter pribadi rasulullah Saw. Dalam pribadi Rasul bersemi nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung. Akhlak tidak diragukan lagi memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Prinsip akhlak Islami termanfestasi dalam aspek kehidupan yang diwarnai keseimbangan, realisis, egektif, azas manfaat, disiplin, dan terencana serta memiliki dasar analisis yang cermat. Menurut Mubarok kualitas akhlak seseorang dinilai tiga indikator: pertama, konsistensi antara yang dikatakan dengan dilakukan, dengan kata lain adanya kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan. Kedua, konsistensi orientasi, yakni adanya kesesuaian antara pandangan dalam satu hal dengan pandangannya dalam bidang yang lain. Ketiga, konsistensi pola hidup sederhana, dalam tasawuf, sikap mental selalu memelihara kesucian diri, beribadah hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap kebajikan pada hakikatnya adalah cerminan dari akhlak yang mulia.

Peran Pendidikan Agama Islam  dalam peningkatan prestasi belajar siswa mempunyai kaitannya dalam pengembangan kecerdasan emsoional. Guru agama memegang peran kunci, namun tidak terlepas pula dari peran guru lain serta iklim sekolah yang sengaja diciptakan untuk pembelajaran akhlak. Menciptakan masyarakat sekolah sebagai sebuah keluarga sakinah akan memberikan keteladanan akhlak kepada anak. Budaya sekolah yang kondusif akan sangat membantu penghayatan anak untuk memperkuat keyakinan dirinya terhadap nilai-nilai ajaran Islam yang kemudian akan membentuk sikap emosionalnya. Interaksi antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa ataupun guru dengan karyawan, karyawan dengan siswa dan karyawan dengan karyawan akan diamati oleh anak yang menjadi sebuah keteladan bagi kecerdasan emosioal dalam situasi sosial yang natural yang sarat dengan nilai-nilai Islami.

Pendidikan Agama Islam  saat ini ternyata lebih dipahami sebagai ajaran fiqih dan tidak dipahami dan dimaknai secara mendalam. Eksistensinya direduksi sebagai sekadar pendekatan ritual simbol-simbol serta pemisahan antara kehidupan dunia dan akhirat. Ketika kita duduk di bangku sekolah dasar misalnya rukun Islam dan rukun Iman diajarkan sebagai sangat sederhana hanya sebentuk hafalan di otak kiri tanpa dipahami maknanya. Padahal dari kedua rukun inilah pembentukan kecerdasan emosi dan spiritual yang begitu menakjubkan. Pendidikan agama seharusnya memiliki tujuan akhir untuk mendidik peserta didik berperilaku religius dan sekaligus membiasakan mereka berpikir secara kreatif dan inovatif. Sayangnya pendidikan agama selama ini sangat jauh dari memberikan ruang kepada anak didik untuk melakukan kretativitas. Rendahnya pengembangan imajinasi dan kreasi serta berpikir rasional menyebabkan pendidikan Islam terkesan sangat indoktrinatif belum menyentuh kepada pemahaman dan penghayatan.

Para pakar pendidikan telah mengemukakan bahwa pendidikan Islam di samping berupaya membina kecerdasan intelektual, keterampilan dan raganya, juga membina jiwa dan hati nuraninya. Berarti secara umum pendidikan Islam membina kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ). Di samping kedua kecerdasan tersebut, pendidikan Islam juga membina kecerdasan spritiual (SQ). Bahkan dalam konsep pendidikan Islam, kecerdasan spiritual adalah landasan IQ dan EQ. Kecerdasan intelektual tidak mengukur kreativitas, kapasitas emosi, nuansa spiritual, dan hubungan sosial, sedangkan kecerdasan Qalbiyah (kognitif Qalbiyah) apabila telah mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang.

Pendidikan Agama Islam , secara umum belum mampu berkontribusi positif terhadap peningkatan moralitas dan spritualitas khususnya di kalangan peserta didik. Sebenarnya kesalahannya tidak semata-mata terletak pada materi Pendidikan Agama Islam, tetapi terletak pada cara dan implementasinya di lapangan. Peserta didik selalu diarahkan pada penguasaan teks-teks yang terdapat dalam buku pengajaran, mereka selalu dihadapkan pada pertanyaan dan hapalan kulit luarnya saja (ranah kognitif), sedangkan substansinya berupa penanaman nilai-nilai agama hilang begitu saja seiring dengan bertumpuknya pengetahuan kognitif mata pelajaran yang ada di sekolah.

Pendidikan Agama Islam  yang diajarkan selama ini pada lembaga-lembaga pendidikan umum mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi lebih bersifat transfer of knowledge, lebih menekankan kepada pencapaian penguasaan ilmu-ilmu agama. Fragmentasi materi dan terisolasinya atau kurang terkaitnya dengan konteks yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian. Konsekuensinya Pendidikan Agama Islam  yang diajarkan menjadi kurang bermakna, kebanyakan peserta didik meningkat pengetahuannya tentang agama, akan tetapi penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai agama tidak teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Paradigma teo-antroposentris berperan menyatukan ilmu alam dengan landasan etik moral Islam yang akan memberi manfaat bagi seluruh alam ini. Akh Minhaji menyebutnya dengan pendekatan “historis-praktis”, atau disebut dengan konsep pendidikan Hadhari dengan konsep pendidikan yang berorientsi rahmatan lil ‘alamin.

Oleh: Ustadzah Iswatun Khasanah

One Comment

Leave a Comment

*

*