Home
Filosofi Teras, Islam, Dan Bagaimana Agar Kita Tenang

Filosofi Teras, Islam, Dan Bagaimana Agar Kita Tenang

Filosofi Teras, Islam, Dan Bagaimana Agar Kita Tenang

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia” (Ali Bin Abi Thalib)

Quotes atau kutipan diatas barangkali sangat familiar bagi kita. Kutipan yang entah darimana sumbernya, disandarkan kepada Ali Bin Abi Thalib. Tapi, kutipan itu menarik, kok bisa?

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah buku yang berjudul “Filosofi Teras”, buku yang sudah lama ditawarkan oleh teman saya. Yang sayangnya, baru saya beli beberapa waktu lalu. Menariknya, walaupun buku itu berisi pandangan seorang Filsuf Yunani Kuno, banyak isinya yang ternyata bisa kita terjemahkan dalam pandangan Islam. Tentang berharap dan kecewa salah satunya.

Dalam Islam kita mengenal ayat disurat Al Ikhlas,
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Artinya, “Allah tempat meminta segala sesuatu.”

Lalu mari kita liat apa maksud kata Ash-Shomad diatas,
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim karya Ibnu Katsir disebutkan beberapa perkataan ahli tafsir mengenai nama Allah Ash-Shamad yakni sebagai berikut.
Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud Ash-Shamad adalah,

الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ

“Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.”

Bahwa sebagai seorang makhluk, sudah sepantasnya kita gantungkan segala hal itu kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. termasuk selain-Nya adalah sesama makhluk. Kenapa? karena Makhluk bisa saja mengecewakanmu, tapi Allah tidak akan pernah mengecewakanmu.

Dalam Filosofi teras dijelaskan, menggantungkan harapan dan kebahagiaan kepada manusia atau orang lain adalah kesalah besar. Kenapa?
Karena seharusnya, kebahagiaan itu datang dari diri sendiri, bukan karena faktor dari luar. Jika kita menggantungkan kebahagiaan kepada faktor luar, maka ini akan bahaya.

Contoh, saya berbuat baik kepada orang. Jika yang membuat saya bahagia adalah karena saya telah berbuat baik, maka apapun respon orang kepada kebaikan itu tidak akan mempengaruhi mood atau kebahagiaan saya. Bodoamat orang gak bales kebaikan itu, bodoamat orang gak nganggep kebaikan itu, bodoamat saya malah dianggap modus, toh saya bahagia ketika saya berbuat baik.

Mari coba kita balik, bahwa misal bahagia saya justru karena kebaikan itu juga dibalas kebaikan oleh orang lain. Wah kacau, begitu ternyata orang tidak menganggap atau tidak membalas kebaikan itu, kita jadi kecewa, marah, kesel, galau. Ini kan lucu, berbuat kebaikan adalah pahala, lah kok kita jadi nggak bahagia karena orang tidak merespon kebaikan itu?

Saya jadi ingat kisah yang pernah dibawakan Gus Baha tentang seorang ulama yang dikerjai tetangganya,
Setiap ulama itu lewat di depan rumahnya, tetangga itu memanggilnya. Begitu sudah datang, maka tetangga ini masuk rumah. Begitu setiap harinya. Tapi uniknya sang Ulama ini justru tersenyum bahagia saat dikerjai seperti itu. Karena penasaran, akhirnya si tetangga itu bertanya, “Apa yang membuatmu terseyum bahagia seperti itu, padahal aku mengerjaimu..”
Lalu si Ulama menjawab, “Memuliakan tetangga adalah perintah Allah, maka saya senang jika melaksanakan perintah Allah..”

Si Ulama bahagia karena ia telah melaksanakan petintah Allah, perkara ia dikerjai oleh tetangganya tidak merubah kebahagiaan itu. Ia bahkan tidak kecewa, kenapa? karena bahagianya datang dari dalam diri sendiri, bukan karena orang lain.

Maka kalau kita liat di dalam Alquran pun, justru kebahagiaan hati itu sebab utamanya adalah hati itu sendiri, bukan perbuatan orang lain.

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Jadi, pada akhirnya bahagianya kita, sedihnya kita, marahnya kita itu bukan karena perilaku orang lain. Tapi karena diri kita sendiri.

Mari lepas semua ketergantungan kita pada orang lain, sandarkan semuanya kepada Allah. InsyaAllah.

-Je Pamungkas

12 Comments

Leave a Comment

*

*