Home
CARA MENJADI SANTRI YANG HEBAT MENURUT K.H HASYIM ASY’ARI

CARA MENJADI SANTRI YANG HEBAT MENURUT K.H HASYIM ASY’ARI

Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Pada zaman yang makin makin modern ini para orang tua menginginkan agar anaknya masuk pesantren selain untuk menjauhkan anak dari pergaulan bebas yang semakin marak para orangtua juga ingin agar anaknya dapat mendalami ilmu agama yang semakin langkah di indonesia.

Sebuah pondok pensantren tentunya memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu menjadikan seorang santri yang hebat, dan tentunya bisa berguna untuk negaranya kelak.

Untuk itu para orang tua juga harus mengetahui beberapa cara jitu untuk membuat anak menjadi santri yang hebat.Berikut adalah beberapa cara untuk menjadi santri yang hebat menurut KH.M. Hasyim Asy’ari:

Pertama, membersihkan hati dari segala penyakit hati, agar mudah menerima ilmu. Membersihkan hati ini bisa dilakukan dengan cara berdzikir setiap waktu, beribadah dan tidak lupa kebiasaan dari seorang santri yaitu membaca al-quran.

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu karena mengharap ridlo Allah semata, bukan berorientasi dunia; tahta, harta, dan pujian. Niat yang baik tentunya akan memberikan dampak dan hasil yang baik pula. Dengan memperbaiki niat maka akan mewujudkan tujuan yang diinginkan dari sebuah pondok pesantren yaitu mencetak santri hebat.

Ketiga, usia yang masih muda, harus selalu bersemangat dalam mencari ilmu. Jangan menunda-nunda dan menyia-nyiakan waktu karena sesungguhnya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang merugi. Sebagai seorang santri harus fokus dan rajin belajar belajar sehingga bisa menggapai cita-citanya.

Keeempat, sebagai seorang santri pastinya sudah dikenalkan dengan hidup sederhana, yaitu hidup prihatin, makan dan pakaian seadanya. Dengan hidup yang sederhana, maka santri tersebut tidak kaget dan tidak mengeluh dengan keadaan dan takdir yang diberikan oleh Allah swt.

Kelima, mengatur waktu sesuai situasi dan kondisi masing-masing. Idealnya, sebelum shubuh digunakan untuk menghafal, pagi hari untuk meneliti atau mengkaji hafalannya dan belajar, siang hari untuk menulis, malam hari untuk mengulang pelajaran. Sehingga santri yang hebat itu adalah santri yang bisa mengatur waktunya dengan baik dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Keenam, mengurangi makan dan minum, dengan nama lain sering berpuasa. Seorang santri tentunya sering berpuasa agar hafalanya terjaga dan melatih santri untuk sabar serta hidup sederhana. Apabila perut yang kenyang membuat malas, mengantuk dan tidak bersemangat, sehingga anak akan susah dalam menangap pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya. Para Ulama’ besar itu sukses karena sering berpuasa.

Ketujuh, harus berhati-hati dan bersikap wira’i dalam setiap gerak geriknya. Dan tidak memakai hukum-hukum yang ringan kecuali dalam keadaan mendesak. Sikap hati-hati tersebut memberikan dampak positif bagi diri santri, sehingga santri tetap waspada dan selalu berfikir terlebih dahulu.

Kedelapan, selektif terhadap makanan. Hindari makanan yang memperlambat fungsi otak, seperti apel yang kecut, susu, ikan dan sebagainya. Hindari pula hal-hal yang bisa memperlambat hafalan, semisal melihat papan nama kuburan. Dengan menjaga pola makanan dan jenis makanan yang dimakan, maka akan mempercepat hafalan dan belajarnya.

Kesembilan, harus mengurangi tidur. Seorang santri yang hebat itu tidak banyak tidur, maksimal tidur 8 jam sehari/semalam. Dengan mengurangi tidur akan mempercepat fungsi otak, sehingga santri akan semangat dalam belaar. Santri juga membutuhkan rekreasi untuk merefresh otak dan suasana batin, agar tidak jenuh.

Kesepuluh, selektif berteman. Dalam hal ini semua orang adalah teman, tetapi seorang santri harus pandai memilih teman yang bisa menularkan virus positif untuk belajar dan melakukan kebaikan, hindari teman yang membawa dampak negatif.

Disadur dari kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, karya Hadratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Oleh: Iswatun Khasanah

17 Comments

Tinggalkan Balasan ke Aldo Andrian Batalkan balasan

*

*