Home
Antara Sains Dan Agama

Antara Sains Dan Agama

Sains, adalah hal yang tidak bisa kita pisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sains seolah menjadi bagian yang tidak bisa, atau terpaksa hadir dalam kehidupan kita. Sains awalnya lahir dari jawaban para ilmuwan kepada doktrin gereja, yang seakan segala hal harus atas persetujuan otoritas tertinggi dalam agama nashrani itu. Masyhur bagi kita, cerita tentang Galilleo yang dihukum gereja karena ia mencetuskan sebuah pandangan yang bertentangan dengan gereja saat itu. Agamawan sudah lama beranggapan bahwa alam semesta ini Geosentris, bumilah yang menjadi pusat alam semesta, lalu benda langit di sekitarnya mengelilingi bumi yang kita pijak ini. Lalu tiba-tiba Galilleo muncul, menurutnya bukanlah bumi sebagai pusat tata surya, tetapi matahari. Maka ia dihukum pancung atas sebab pernyataanya itu.

Kejadian ini lalu memantik ilmuwan untuk membuktikan pernyataan Galilello ini. Sampai akhirnya, ilmuwan sepakat bahwa Galilleo benar dengan teorinya yang selanjutnya disebut sebagai Heliosentris, bahwa mataharilah pusat tata surya. Maka sejak itu, munculah era baru dibarat yang kita kenal dengan Abad Pencerahan, ada yang tau istilah ini disebut apa? Komen dibawah coba.

Berawal dari situ, lalu sains dianggap sebagai jawaban baru dari permasalahan apapun, termasuk alam semesta. Kesalahan gereja tentu sangat membekas, ya walau akhirnya pada pertengahan abad 19, Paus Yohanes Paulus mengakui bahwa Galilleo benar, tapi pernyataan itu tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang sudah kadung runtuh kepada gereja. Era sekulerisme akhirnya benar-benar terjadi, agama hanya berbicara tentang hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan yang lainnya bukan urusan agama.

Kembali ke topik, sejak itu Sains mulai menencapkan eksistensinya di dunia pengetahuan. Jika jaman dahulu orang berkata alam semesta tercipta karena adanya Tuhan, sains memberikan jawaban melalui teori big bang-nya. Jika jaman dahulu orang berkata manusia ada karena diciptakan Tuhan, sains memberikan jawabanya melalui teori evolusi-nya. Maka dari sini, kemudian muncul saintis-saintis yang dengan tidak ragu mengatakan bahwa Tuhan bisa jadi tidak ada.

Saya jadi teringat saat tanpa sengaja menonton film autobiografi dari Stephen Hawking, saintis modern yang disejajarkan dengan si jenius Einsten. Dalam filmnya, Hawking dengan semangat berusaha membuat sebuah teori yang ia namakan, “Theory Of Everything”. Apa lagi itu?

Pada dasarnya, dalam sains ada empat teori yang menjadi pijakan segala hal. Relativitas Umum, Kuantum, Nuklir kuat, dan Nuklir lemah. Kata Hawking, keempat hal itu adalah laksana potongan kue yang tercepah. Maka menggabungkannya akan menjadikan ia sebagai kue yang utuh. Itulah yang coba dikerjakan oleh Hawking sepanjang hidupnya, bagi ia andai teori ini berhasil disempurnakan, maka ini bisa jadi teori yang menjawab segala hal, sedetail apapun tentang alam semesta, termasuk eksitensi manusia di dalamnya. Maka keberadaan Tuhan, menjadi tak bernilai adanya. Maka wajar ketika ditanya tentang Tuhan, Hawking dengan tegas menjawab, “Kita tidak perlu Tuhan dalam penciptaan Alam Semesta”.

Sains, pada akhirnya dianggap sebagai Tuhan baru bagi sebagian ‘kecil’ saintis yang dianggap ahli, karena baginya Sains adalah jawaban atas apapun yang pada jaman dahulu disebut sebagai campur tangan Tuhan. Maka saya jadi teringat perkataan Ustadz Kastori yang sering beliau sampaikan, tidak ada Atheis di dunia ini. Yang ada hanyalah mereka yang berTuhan Allah, atau bertuhan selain Allah. Atheis? Tidak, mereka bertuhankah sains dan logika.

Tentu ini hanya sepenggal kisah tentang sains, bagaimana semakin seseorang belajar sains maka semakin ia meninggalkan Tuhan. Di sisi lain, banyak juga kisah tentang bagaimana seseorang menemukan Allah melalui sains, bahkan Alquran menjadi satu-satunya kitab suci yang kebenaran sains-nya bisa dipertanggung jawabkan. Kata Dr. Dzakir Naik, sains dalam Alquran 80% terbukti benar, 20% sisanya tidak bisa dibuktikan dengan teknologi kita hari ini.

Agama, kalau di dunia barat menjadi candu karena ia menghambat ilmu pengetahuan sehingga munculah sekulerisme. Islam, justru sangat mengedepankan pengetahuan agar manusia mau, belajar dan berkembang dengan berkah akal yang ia punya. Berapa banyak ayat Alquran yang menyuruh kita memperhatikan alam semesta untuk menemukan tanda-tanda keberadaan Allah? Betapa sering Alquran menyebutkan bahwa diantara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, bulan dan bintang, siang dan malam. Semuanya memancing kita untuk melakukan observasi, juga penelitian terhadap sekitar. Maka tidak heran, betapa ilmuwan islam jaman dahulu lahir justru karena mempelajari Alquran. Ini tentu berbanding terbalik dengan pandangan agama terhadap teknologi dan pengetahuan, jika barat menganggap agama adalah musuh, maka Islam justru memancing muslim untuk menemukan keberadaan Rabb-Nya melalui pengetahuan.

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (Q.S Ali Imran [4]: 190-191)

۞ وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا 

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”  (QS Al-Furqan: 53).

Menarik, bukan?

-Ridho Ibnu Khaerudin Murry

5 Comments

Leave a Comment

*

*