Home
6 KETRAMPILAN PENTING DI PONDOK PESANTREN

6 KETRAMPILAN PENTING DI PONDOK PESANTREN

1.Keterampilan Komunikasi Dengan Bahasa Arab.

Rasa rasanya mempelajari suatu bahasa tidaklah maksimal tanpa diiringi dengan praktik. Sering kali kita jumpai peserta didik di sebagian Pondok Pesantren masih pasif dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab karena tempat ia belajar belum memfasilitasi praktik komunikasi dengan bahasa Arab secara maksimal.
Contoh peraturan yang dapat diterapkan dalam komunikasi sehari hari di lingkungan Pondok Pesantren adalah sebagai berikut:
🕐 One Day Speaking Arabic, dengan ketentuan sebagai berikut:
– Dalam satu hari wajib berkomunikasi dengan bahasa Arab kemudian sehari berikutnya boleh berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Demikian seterusnya dilakukan secara bergantian setiap harinya. Atau,
🕖 One Week Speaking Arabic, dengan ketentuan sebagai berikut:
– Dalam seminggu wajib berkomunikasi dengan bahasa Arab, seminggu berikutnya boleh berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Demikian seterusnya dilakukan secara bergantian setiap minggunya.
Adapun dalam proses belajar mengajar, peraturan dapat dikondisikan sebagai berikut:
– Untuk mata pelajaran diniyyah dalam kelas diupayakan menggunakan bahasa Arab.
– Untuk mata pelajaran umum dapat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris (bila mampu).
Hal ini bisa diatur sedemikian rupa bila kita benar-benar komitmen dengan bahasa Arab.

2. Keterampilan Public Speaking (Ceramah, Khutbah dan Kultum).

Umumnya, masyarakat memandang bahwa Pondok Pesantren adalah lembaga kaderisasi Dai dan Ulama, walau tak semua alumninya kelak menjadi Dai atau Ulama. Walau demikian, sudah sepatutnya setiap Pondok Pesantren membekali peserta didiknya dengan keterampilan public speaking ini. Baik dengan cara memasukkannya ke dalam kurikulum Pondok Pesantren seperti yang diterapkan oleh Fakultas Dakwah dan Ushuluddin di Universitas Islam Madinah atau menjadikannya sebagai salah satu program ekstrakurikuler yang wajib dilaksanakan sekali atau dua kali pada setiap pekan.
Dengan keterampilan public speaking, seorang alumni Pondok Pesantren diharapkan luwes dan tidak kaku dalam menyajikan materi ceramah, khutbah atau kultum di hadapan publik. Dengan penyampaian materi yang baik, lugas dan menarik, diharapkan pesan yang disampaikan kepada publik dapat diterima dan dipahami dengan baik.

3. Keterampilan Kepemimpinan dan Organisasi.

Keterampilan ini umumnya dapat kita jumpai penerapannya dalam lingkungan Pondok Pesantren di Indonesia. Misalnya di suatu kelas atau asrama ada di antara peserta didik yang diamanahkan untuk menjabat sebagai ketua kelas, wakil, sekretaris dan bendahara. Namun perlu diketahui bahwa organisasi itu tidak berhenti pada pembagian tugas semata. Setiap peserta didik perlu mendapatkan materi kepemimpinan dan organisasi yang benar guna mewujudkan praktik organisasi yang benar dan sehat.
Peserta didik perlu mendapatkan asupan materi tentang kepemimpinan dan organisasi agar mereka mengetahui jenis dan model kepemimpinan yang baik dan tidak baik, mengetahui karakteristik pemimpin yang baik dalam Islam dan mengetahui tata kelola organisasi yang baik, supaya di kemudian hari Pondok Pesantren tidak melahirkan sosok pemimpin yang arogan, diktator dan tidak mengayomi bawahannya.

4. Keterampilan Wirausaha dan Rumah Tangga.

Keterampilan ini patut mendapatkan perhatian serius dari pihak penyelenggara pendidikan karena setiap alumni Pondok Pesantren juga diharapkan dapat menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi di masa depan. Keterampilan seperti ini dapat dimasukkan ke dalam kurikulum Pondok Pesantren maupun program ekstrakurikuler.
Seorang Dai yang kehidupan ekonominya mapan tidak akan mudah dipengaruhi dan disetir oleh orang lain. Ia akan menjadi sosok pribadi yang disegani dan tidak bergantung kepada orang lain.
Demikian pula santriwati patut mendapatkan porsi keterampilan rumah tangga seperti memasak, membuat kue atau jajanan basah, menjahit, merawat orang sakit serta berbagai keterampilan yang lazim diketahui dan dikuasai oleh setiap calon ibu rumah tangga.

5. Keterampilan Bela Diri.

Tujuan dari penyelenggaraan program pelatihan bela diri, memanah, berkuda dan lainnya adalah terwujudnya keamanan dan kenyamanan di lingkungan internal dan eksternal Pondok Pesantren. Dengan adanya program semacam ini diharapkan Pondok Pesantren dapat melahirkan kader dakwah yang sehat, kuat, tangguh, mengayomi yang lemah dan berani dalam membela kebenaran.

6. Keterampilan Dalam Berinteraksi Sosial.

Tidak diragukan lagi bahwa sebagian besar gesekan yang terjadi antara Pondok Pesantren dan masyarakat dipicu oleh kesalahpahaman di antara kedua belah pihak. Di sinilah pentingnya kemampuan diplomasi yang baik untuk meminimalisir gesekan di lingkungan Pondok Pesantren. Hal ini perlu diupayakan dengan baik dan serius. Diplomasi tidak hanya diimplementasikan pada komunikasi semata, namun hal yang demikian dapat pula diwujudkan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan yang mendatangkan manfaat dan kemaslahatan seperti: kegiatan kerja bakti, program pengobatan gratis, program khitan masal, program pasar murah dan mengutus asatidzah atau santri untuk menjadi Imam Shalat Tarawih di Masjid atau Mushala sekitar Pondok Pesantren.
Hubungan yang baik antara Pondok Pesantren dan warga sekitar akan menumbuhkan rasa simpati, saling percaya satu sama lain, solidaritas dan toleransi antara kedua belah pihak sehingga berbagai macam upaya provokasi dari pihak luar yang bertujuan untuk menghasut, memecah belah dan mengadu domba kedua belah pihak dapat diatasi dan diminimalisir dengan baik.

Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat. Barokallahu fikum.

Oleh: Oleh Ustadzah Tyas

18 Comments

Leave a Comment

*

*