Home
3 Wasiat Imam Nawawi bagi Santri, Pelajar dan Penuntut Ilmu

3 Wasiat Imam Nawawi bagi Santri, Pelajar dan Penuntut Ilmu

Syekh Imam Nawawi Al-Jawi Al-Bantani adalah ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten pada tahun 1813 M dan meninggal di Mekkah, Hijaz pada tahun 1897 M. Beliau adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar Al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Beliau adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif. Beliau telah menulis kitab yang jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir dan hadist. Ia layak menempati posisi sebagai tokoh utama kitab kuning Indonesia karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air bahkan di luar negeri.

 

Dalam karyanya Nashaihul Ibad, pada maqalah yang ke lima belas beliau mengutip sebuah kisah tentang seorang dari Bani Israil yang mengoleksi 80 peti berisi Pustaka Keilmuan. Namun sama sekali sedikitpun koleksi itu tidak memberikan manfaat. Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi mereka untuk menyampaikan kepadanya bahwa berapapun buku yang berhasil ia koleksi tidak akan memberi manfaat. Kecuali melaksanakan 3 (tiga) hal:

  1. Tidak cinta dunia,
  2. Tidak berteman dengan setan, dan
  3. Tidak menyakiti orang lain.

Dalam kisah di atas tersirat sebuah pesan yang perlu kita petik bahwa buku teks atau lebih umum ilmu tidak cukup hanya dengan diamati atau sekedar dibaca tanpa ada manfaat sosial yang diberikan. Karena ilmu bukanlah alat untuk meraup keuntungan, bukan pula alat untuk bersombong diri dan bukan pula alat untuk menindas. Ketiga pesan dalam kisah Bani Israil di atas menyiratkan beberapa hal:

Pertama, Tidak cinta dunia. Pesan ini menyiratkan bahwa sebuah pengetahuan bukanlah digunakan sebagai alat maraup keuntungan duniawi. Seseorang yang tidak cinta dunia ia tidak akan tergoda dengan iming-iming apapun, materi atau kekuasaan. Sehingga ia tidak akan pernah menjual pengetahuannya dengan keuntungan duniawi, terlebih untuk kepentingan politik.

Kedua, Tidak berteman dengan setan. Setan adalah sebuah simbol dari kesombongan. Sebab iblis sebagai sesepuh setan dihukum Allah SWT lantaran kesombongannya menolak sujud kepada Nabi Adam. Dalam khazanah kitab kuning, sombong didefinisikan sebagai Bathrul Haq wa Ghamtun Naas yang artinya “Menolak kebenaran dan menghina orang lain”. Dengan demikian pesan ini menyiratkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah alat untuk bersikap egoistis dengan menganggap benar sendiri. Sehingga selain pendapatnya adalah sesat dan salah.

Pesan terakhir adalah Tidak menyakiti orang lain. Ilmu pengetahuan bukanlah alat yang digunakan untuk menjatuhkan atau menindas. Sebab, bila demikian maka yang terjadi adalah kerusakan dan brutalitas.

Itulah sedikit keterangan dari Syekh Imam Nawawi Al Bantani dalam Nashaihul Ibad. Semoga bisa menjadi pengingat kita bersama.

Oleh Siti Aminah

One Comment

Tinggalkan Balasan ke Aris Y Batalkan balasan

*

*